Syauta: Pemberitaan Semburan Gas Beracun di Pulau Marsela Hoaks

oleh -284 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Warga tiga desa di Pulau Marsela, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), dikabarkan mengungsi menyusul adanya semburan lumpur bercampur minyak beberapa pekan lalu.

Warga memilih mengungsi setelah terjadinya semburan lumpur bercampur gas yang menyebabkan sejumlah warga pingsan setelah mencium aroma dari sumburan tersebut.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Roy Syauta menjelaskan peristiwa tersebut sebagai fenomena alam biasa dan sudah sering terjadi.

“Persoalan lumpur yang merapat di Pulau Marsela itu benar dan setiap tahun ada, masyarakat disana juga memaklumi karena itu merupakan fenomena alam, jelas Syauta kepada awak media di Swissbell Hotel, Selasa (22/10/19).

“Terkait dengan lumpur yang menyembur di Pulau Marsela khususnya di dua desa. Disana itu memang menurut teman-teman dari Kabupaten setiap tahun pada musim panas itu memang dia muncul,” sambungnya.

Baca Juga  Situasi Corona di Papua Barat Sangat Mengkhawatirkan

Syauta juga menyentil pemberitaan sejumlah media mengenai gas beracun yang muncul itu. Siauta mengungkapkan bahwa pemberitaan yang dipublikasikan oleh media sosial atau media masa di itu hoaks.

“Bukan kata saya tapi dari hasil koordinasi teman-teman di Dinas Lingkungan Kabupaten MBD dengan pak Camat, tidak ada yang namanya sumburan gas beracun. Mereka menyampaikan bahwa itu hoaks,” ujarnya.

Roy menuturkan, ketika isu tersebut merebak, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten MBD langsung berkoordinasi dengan Camat yang ada di Pulau Marsela.

Ia pun mengatakan pemberitaan sejumlah media di Kota Ambon mengenai munculnya gas beracun di Pulau Marsela yang mengakibatkan beberapa masyarakat pingsan akibat mencium gas tersebut, ternyata hoaks atau berita bohong.

Baca Juga  Ada 105 Kasus Baru Covid-19 Hari Ini, Total Menjadi 790 Kasus

“Jadi itu dianggap sebagai fenomena alam, tetapi muncul tahun ini agak berbeda sedikit dengan sebelumnya, karena warnanya berbeda dengan yang sebelumnya,” ungkap Syauta.

Siauta juga menambahkan telah berkoordinasi dengan teman-teman dari Kementrian cuman untuk kegiatan-kegiatan seperti itu perlu koordinasi dengan pimpinan yang lebih tinggi.

“Jadi prinsipnya kami sudah berkoordinasi tetapi dari hasil komunikasi kami dengan teman-teman di MBD untuk sumburan gas beracun itu hoaks,” pungkasnya. (ebot)