Tafsir Air Mata Nanik

oleh -32 views

Di hadapan jabatan baru, manusia sering mendadak menjadi arkeolog bagi hidupnya sendiri. Ia menggali kembali jalan-jalan lama yang pernah dilalui. Mengingat orang-orang yang dulu meragukannya. Mengingat pintu-pintu yang pernah tertutup. Mengingat hari-hari ketika namanya hanyalah satu nama biasa di antara begitu banyak nama lain.

Dan ketika semua kenangan itu berkumpul dalam satu ruangan, air mata kadang menjadi bahasa yang lebih fasih daripada pidato.

Tetapi politik selalu membuat publik sulit menjadi sepenuhnya polos. Sebab terlalu banyak drama telah dipentaskan di panggung kekuasaan. Terlalu banyak kisah yang dimulai dengan senyum kemenangan dan diakhiri dengan wajah muram. Terlalu banyak pejabat yang datang membawa janji pengabdian, lalu pulang membawa penyesalan.

Baca Juga  Rel Pertama, Palang Terakhir

Politik mengajarkan satu hal menarik: orang bisa menangis ketika kehilangan sesuatu, tetapi kadang juga menangis ketika memperoleh hampir segalanya. Kita pernah melihat pejabat menangis ketika dilantik. Kita juga berkali-kali menyaksikan pejabat menangis ketika hakim membacakan vonis korupsi. Air mata yang pertama lahir karena pintu kekuasaan terbuka. Air mata yang kedua lahir karena pintu sel penjara mulai terlihat. Sama-sama air mata, tetapi nasib yang mengiringinya bergerak ke arah yang berlawanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.