Di republik ini, air mata memiliki kariernya sendiri. Ia hadir saat pelantikan, hadir saat serah terima jabatan, dan kadang muncul kembali bertahun-tahun kemudian di ruang sidang tindak pidana korupsi. Bedanya hanya satu: pada pelantikan orang menangis karena mendapat kursi, sedangkan di pengadilan orang menangis karena kursinya ternyata tidak cukup kuat menopang godaan.
Karena itu, setiap kali melihat pejabat menangis setelah dilantik, selalu muncul satu harapan sederhana: semoga ini menjadi satu-satunya tangisan yang berhubungan dengan jabatan tersebut. Sebab sejarah birokrasi kita sudah terlalu sering memperlihatkan perjalanan karier yang dimulai dengan air mata haru dan berakhir dengan air mata penyesalan.
Tentu tak seorang pun tahu bagaimana bab berikutnya akan ditulis. Politik adalah dunia yang gemar mempermainkan kepastian. Hari ini seseorang berada di lantai tertinggi gedung kekuasaan, besok ia bisa dipindahkan ke ruangan yang lebih sempit, pengap dan sunyi. Hari ini namanya memenuhi pemberitaan, besok publik mencari tokoh baru untuk dibicarakan.
Karena itu, air mata Nanik dapat dibaca sebagai air mata seorang manusia yang sedang menatap jauh ke belakang sebelum melangkah lebih jauh ke depan.












