Informasi tersebut kemudian diduga digunakan untuk membantu sistem pertahanan udara menentukan sasaran.
Menurut pejabat militer AS, sistem peringatan dan penanggulangan F-15E hanya memberikan waktu sekitar setengah detik kepada awak sebelum pesawat dihantam rudal.
Jet tempur yang bernilai sekitar US$60 juta itu akhirnya jatuh meski dilengkapi sistem pertahanan elektronik dan penanggulangan modern.
Jika informasi tersebut akurat, insiden itu memperlihatkan perubahan pendekatan Iran: bukan sekadar menembakkan rudal ke sasaran udara, tetapi terlebih dahulu memanfaatkan drone untuk mengumpulkan informasi dan membantu menentukan posisi target.
AS Hadapi Pilihan Sulit
Perkembangan tersebut berlangsung ketika ketegangan antara Washington dan Teheran masih tinggi.
Presiden Donald Trump baru-baru ini membatalkan rencana serangan bom terhadap Iran setelah Teheran dan sejumlah negara kawasan meminta penundaan, menyusul tercapainya apa yang disebut sebagai “kerangka kesepakatan”.
Di sisi lain, pejabat Arab Saudi dilaporkan memperingatkan bahwa eskalasi serangan AS dapat memicu pembalasan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia.
Iran sendiri berulang kali memperingatkan bahwa serangan baru dari Amerika Serikat atau Israel akan mendapat respons keras.









