Tan Malaka dan Ternate Undercover Pergerakan Kemerdekaan di Timur Indonesia

oleh -110 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

Oleh: Asghar Saleh

..Tuan tahu bahwa di Bandung juga sudah ada sebuah sekolah. Banyak tempat lain sudah minta bantuan pada saya. Bahkan permintaan telah datang dari Ternate!! Tetapi itu tidak boleh! Sebab dia seorang komunis, bukan? Dan akan maju revolusi dan berbahaya bagi pemerintah. Jika pemerintah itu sudah merasa takut kepada anak anak yang dengan celana merah berbaris di jalan, maka sayalah yang mulai merasa ragu tentang hakikat dan legalitas pemerintah itu!…

Kutipan ini saya ambil dari surat balasan Ibrahim Datuk Tan Malaka kepada gurunya GH Horensma, seorang Belanda di Padang yang sudah menganggap Tan sebagai anaknya. Horensma gelisah dengan sepak terjang Tan melawan Belanda.Surat Tan tertanggal 18 Maret 1922, dikirim dari Semarang disaat dirinya sibuk menghadapi sidang Belanda.Ia dituduh sebagai pemberontak karena mengorganisasi pembentukan sekolah yang dipercaya sebagai titik balik perjuangan pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Link Banner

Tan membangun sekolah pertama saat masih bergumul bersama Sarekat Islam (SI) di Semarang tanggal 21 Juni 1921. Dalam artikelnya SI Semarang dan Onderwijs, Tan menulis bahwa sekolah SI ini berbeda dengan sekolah Belanda.Sekolah SI tidak mencari keuntungan, biaya sekolah lebih murah dan diprioritaskan bagi kaum miskin serta sekolah ini mendidik orientasi dan rasa merdeka.Tahun 1922, Tan ditangkap Belanda terkait sekolah SI. Meski dibungkam, sekolah SI ternyata tumbuh cepat dan berkembang di 12 kota Hindia termasuk di Ternate dengan murid rata rata 250 orang.

Baca Juga  Jenazah Pasien PDP Dimakamkan di TPU Milik Pemkot Ambon

Belakangan sekolah SI berubah nama menjadi Sekolah Rakyat (SR) setelah SI mengalami perpecahan dan lahirlah SI Merah atau Sarekat Rakyat. Meski begitu warisan seragam putih merah tak diganti dan terus dipakai hingga kini. Sekolah SR di Ternate terletak di bilangan Santiong. Beberapa sesepuh Santiong yang saya temui menceritakan jika di bagian timur lokasi sekolah ini tumbuh sebatang pohon kenari besar dan tinggi. Itulah mengapa nama SR berganti menjadi SD Kenari Tinggi.

SR juga didirikan di Tidore tepatnya di Gurabati. Tokoh perempuan Tidore, Maryam Adjaran (85 tahun) menuturkan sekolah rakyat ini banyak melahirkan tokoh pendidikan lokal, salah satunya adalah Hj. Sitti Hawa, mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 dan politisi PBB yang jadi anggota DPRD Ternate. Selain di Ternate dan Tidore, SR juga didirikan dan berkembang pesat di Jailolo dan Bacan.

Nama Ternate kembali disebut Tan setahun setelah itu. Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang 40 tahun meneliti kehidupan Tan menyebut dalam surat elektroniknya kepada saya, bahwa pada tanggal 20 Juli 1923, Tan bersama Pieter Bergsma menyebut nama Ternate dalam artikel berbahasa Jerman, Der Kommunismus Komitern Inprekorr halaman 1062-1063. Artikel ini beredar luas di Eropa.

Setelah itu, Ternate kembali muncul dalam tulisan inspiratif berbentuk brosur panjang berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Terbit pertama kali di Kanton Cina, April 1925 dan kemudian dicetak ulang di Filipina, sekitar Desember tahun yang sama, Tan Malaka secara tegas merumuskan Indonesia merdeka 100%. Bentuk negaranyapun Republik. Sejarawan Asvi Marwan Adam menyebut, padanan kata Republik dan Indonesia dicetus Tan saat para pejuang di tanah air belum berpikir apa bentuk negara yang ideal. Karena itu, Tan didaulat sebagai Bapak Republik.

Baca Juga  Peduli Gempa Ambon, Karang Trauma Lantamal IX Ikut Serta Bantu Pengungsi

Beratus hasil copyan Naar de Republiek Indonesia kemudian masuk ke Jawa dan jadi bacaan wajib Soekarno dkk. Bung Karno bahkan sempat di penjara gara gara menyimpan brosur Tan Malaka ini. Tulisan ini juga menginspirasi pledoi Hatta berjudul Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) di depan pengadilan Den Hag Belanda (1928) maupun tulisan Menuju Indonesia Merdeka dari Bung Karno tahun 1933.

Menurut Tan dalam Naar de Republiek Indonesia, posisi Ternate amat menentukan dalam pergerakan kemerdekaan. Jika berhasil menyerang (Belanda), maka musuh akan terbagi konsentrasinya dan mengirim pasukan ke Ternate dan daerah jauh lainnya. Jelas strategi ini akan sangat membantu pergerakan revolusioner di tanah Jawa. Saya kutip tulisan Tan, ”Satu kemenangan di Priangan, Aceh dan Ternate ditilik dari sudut taktik adalah sangat penting dan dapat merintis jalan bagi kemenangan strategis. Ibarat pedang domaclas diatas kepala imperialis Belanda”. Bertahun kemudian, pemahaman ini menginspirasi gagasannya untuk menentang masuknya sekutu dan Belanda lewat ide perang gerilya. Sebuah pertautan yang membuat Tan dekat dengan Panglima Besar Soedirman terutama dalam momen Kongres Persatuan Perjuangan di Solo, Januari 1946.

Baca Juga  Pengurus Prawita Bertekad Majukan Pariwisata Pulau Buru

Ternate secara spesifik kembali muncul dalam tulisan Tan Malaka berjudul “Semangat Muda” yang ditulisnya Januari 1926 di Tokyo.Tan secara lugas menghitung berbagai potensi gerakan perjuangan untuk merdeka 100%. Dia sadar banyak latar belakang dan perbedaan sosial budaya dan ekonomi yang mesti dikelola secara detail agar jadi alat pemersatu. Jauh dari Jepang, Tan menulis, di Indonesia banyak perbedaan kasta. “Seorang tani di Jawa yang selalu campur dengan asap gula, acap kali naik kereta tentulah berlainan sekali pikiran dan wataknya dengan seorang pemotong sagu di Ternate yang belum pernah seumur hidupnya melihat asap pabrik atau mendengar peluit kereta expres”.

Penyebutan Ternate yang begitu detail dalam tulisan tulisan Tan Malaka melahirkan banyak pertanyaan. Ketika jarak tempuh Ternate dan Jawa dihabiskan dengan berbulan bulan di atas kapal laut, ketika surat menyurat butuh waktu lebih dari sebulan baru dibaca, telepon belum ada apalagi internet, dunia masih dipisahkan jarak, dari mana seorang Tan Malaka mengenal Ternate? Siapa kawan Tan yang mengundangnya membuka sekolah di Ternate? Mengapa hanya Ternate? Bukan Makassar, Manado, Ambon atau kota lain bagian timur Indonesia?.
(bersambung)

===========

Asghar Saleh: Adalah Direktur LSM Rorano Maluku Utara.