Anak sulung dari Sahrudin Awat, satu dari 11 warga Maba Sangaji yang dikriminalisasi karena membela hutan adat, bercerita tentang luka dan kebanggaannya.
Porostimur.com, Ternate — Hari itu, langit di Ternate diselimuti mendung tipis. Namun bagi Wahyuni Sahrudin, mahasiswi semester akhir di Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Khairun, awan yang menggantung bukan sekadar cuaca. Itu pertanda dari kesedihan yang telah berhari-hari menggumpal di dadanya: ayahnya, Sahrudin Awat, ditangkap polisi.
Yang membuat luka itu semakin dalam, kabar penangkapan itu bukan datang dari keluarga, bukan dari pejabat desa, bukan pula dari surat resmi. Ia tahu dari video viral di media sosial, yang menunjukkan 11 warga Maba Sangaji ditangkap aparat kepolisian karena dianggap menghalangi aktivitas tambang PT Position.
Di antara tubuh-tubuh yang digiring itulah, Wahyuni mengenali wajah yang begitu ia kenal: ayah kandungnya sendiri.
“Awalnya saya tidak percaya. Tapi saya tahu betul wajah Bapak. Itu dia. Itu Bapak saya,” ujar Wahyuni saat ditemui Porostimur.com, Senin (21/7/2025) di, Ternate..
Ketika Kabar Duka Dianggap Hoaks
Setelah melihat video itu, Yuni langsung menghubungi ibunya di kampung—Maba Sangaji, Halmahera Timur. Tapi jawaban sang ibu justru membuatnya bingung.
“Mama bilang, ‘tidak mungkin, Bapakmu ada di kebun.’ Tapi saya tahu benar itu Papa,” ucap Wahyuni.
Ia pun mengirim potongan video kepada ibunya. Lama tak dibalas, hingga akhirnya ibunya menjawab lirih: “Iya, ternyata benar…”









