Tangkal Radikalisme dan Terorisme, BNPT Libatkan Kaum Perempuan

oleh -173 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Mengantisipasi radikalisme dan terorisme bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan seluruh aparatnya semata, namun turut menjadi tanggung jawab masyarakat yang berada dalam pemerintahan dimaksud, baik dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga tingkat kelurahan maupun RT/RTW sekalipun.

Salah satu elemen dalam masyarakat yang turut diintesifkan untuk mengantisipasi masuknya radikalisme dan terorisme dalam masyarakat yakni kaum perempuan.

Hal ini ditegaskan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen (TNI) Hendri P. Lubis, dalam pembukaan acara Pelibatan Perempuan dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme, di Hotel Biz Ambon, Kamis (5/9).

”Proses penanggulangan terorisme tidak bisa dilaksanakan hanya oleh aparatur keamanan semata, apakah itu Kepolisian, TNI dan BNPT sebagai lembaga negara yang mendapat mandat untuk menjalankan program ini. Namun, dibutuhkan sinergi yang kuat antara aparatur keamanan dengan masyarakat, karena bahaya terorisme menyasar tanpa memandang pangkat, jabatan dan status sosial. Kami mendorong simpul-simpul organisasi perempuan yang hadir pada kegiatan ini untuk mampu menjadi agen perdamaian, mengorganisir massa dan menumbuhkan kesadaran untuk bersama-sama melawan radikalisme dan terorisme. Tragedi yang melukai perasaan dan mata batin serta rasa keIndonesiaan kita, telah membuka lebar-lebar nalar sehat, hati nurani dan segenap kesadaran kita, bahwa keberagaman sebagai kekuatan bangsa dalam satu kesatuan yang wajib kita pertahankan, melalui komitmen bersama darl seluruh elemen bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, terorisme adalah tindak kejahatan luar biasa yang menjadi perhatian dunia.

Baca Juga  Pembangunan Taman di Kota Jailolo Tertunda Karena Covid-19

Bukan sekedar aksi teror semata, akunya, namun pada kenyataannya tindak kejahatan terorisme juga melanggar hak asasi manusia sebagai hak dasar yang secara kodrati melekat dalam diri manusia, yaitu hak untuk merasa nyaman dan aman ataupun hak untuk hidup.

”Dampak terorisme pun tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada harta benda, namun juga merusak stabilitas negara. Terutama dalam sisi ekonomi, pertahanan, keamanan, sosial budaya dan lain sebagainya. Terorisme jelas menjadi ancaman bagi peradaban modern, sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia. Rentetan kasus terorisme yang terjadi di Indonesia mulai dari bom bunuh diri, pelemparan bom ke kerumunan orang, penembakan terhadap orang tak bersalah dan semua bentuk terorisme lainnya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum dan ajaran apapun. Pelaku teror tidak hanya membunuh manusia tidak berdosa, merusak fasilitas umum dan kantor-kantor pemerintah, menghancurkan rumah-rumah ibadah, menghadirkan rasa resah dan ketakutan publik, akan tetapi telah melampaui hal-hal tersebut dengan mengoyak dan membuat retak bangunan persaudaraan, persatuan dan kesatuan elemen bangsa. Selain itu, pelaku teror berusaha merusak pondasi toleransi, multikulturalisme dan hubungan antar umat beragama yang telah dibangun selama ini,” jelasnya.

Baca Juga  Marin ditekuk Okuhara di final Denmark Open 2020

Radikalisme dan terorisme, jelasnya, menjadi salah satu tantangan besar yang tidak hanya mengganggu keamanan masyarakat, tetapi dalam cakupan yang lebih besar merupakan ancaman potensial terhadap kedaulatan negara.

”Apalagi, sejarah terorisme di negeri ini bukan hal baru, tetapi merupakan tantangan dan ancaman yang terus hadir dalam sejarah perjalanan bangsa ini sejak masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Masa Reformasi, aktifitas kelompok teroris dengan aksi dan ancaman kekerasannya kerap menjadi hal yang menakutkan bagi keamanan masyarakat dan kedaulatan bangsa ini. Merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh BNPT tahun 2018, menyatakan bahwa kearifan lokal sangat efektif dalam menangkal penyebaran faham radikal. Sebanyak 63,60 persen responden survei percaya bahwa kearifan lokal dapat menangkal radikalisme dan diyakini sebagai kekuatan kontrol sosial. Kearifan lokal seharusnya dapat dltanamkan dan diterapkan sejak dini dalam keluarga, dari segi tutur lisan maupun tata krama dalam lingkungan,” tegasnya.

Berkaitan dengan lingkungan ini, terangnya, tidak dapat dipungkiri bahwa posisi perempuan sangat vital dalam keluarga, sementara keluarga merupakan sekolah pertama dalam penanaman nilai moral.

”Dan karakter anak, tugas mendidik anak merupakan tugas resiprokal orang tua, namun  posisi perempuan dalam hal ini adalah ibu secara emosional lebih memiliki kedekatan terhadap anak. Karena itulah, kunci penanaman karakter dan jati diri anak banyak bertumpu pada peran perempuan. Perempuan dalam peran seperti ini, sebenarnya menjadi salah satu benteng dari pengaruh paham dan ideologi kekerasan yang saat ini juga mulai menyasar pada anak usia dini. Maka diperlukan upaya penanaman nilai kebangsaan, wawasan keagamaan dan kearifan lokal dalam keluarga menjadi sangat efektif, sebagai filter dalam menangkal penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme,” timpalnya.

Baca Juga  Ajax Amsterdam Cetak Rekor Usai Libas VVV Venlo 13 Gol

Ditambahkannya, sangat dibutuhkan kesadaran yang tinggi untuk selalu mawas diri, sehingga kaum perempuan tidak terperangkap masuk ke dalam jaringan pelaku ataupun menjadi korban atas aksi terorisme.

Dimana, dalam konteks inilah kegiatan pelibatan perempuan dalam pencegahan terorisme ini penting untuk dilaksanakan.

Untuk itu dihimbaunya bersama-sama mengedepankan kewaspadaan untuk terus membentengi diri dari pengaruh radikalisme dan terorisme.

”Melalui kegiatan pelibatan perempuan dalam pencegahan terorisme ini, sekali lagi kami tekankan tugas pencegahan radikalisme dan terorisme tidak semata-mata ada di tangan aparat keamanan. Masyarakat dengan berbagai elemen di dalamnya memiliki tugas dan peran yang sama untuk bersama-sama mencegah terorisme dengan satu tekad Indonesia Damai,” pungkasnya. (keket)