Teman Dari Hutan

oleh -56 views
Link Banner

Cerpen Karya: Puji Handayani

Kriiiiingggg… Suara alarm jam membangunkanku, pertanda ini sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Akupun segera bergegas untuk mandi. Perkenalkan namaku Puji, umurku 11 tahun, dan aku adalah murid di kelas 5 SDN Sembung 2 di kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Hari ini adalah hari pertama liburan kenaikan kelas. Aku dan keluargaku berencana untuk berlibur ke rumah nenek yang berada di Kalimantan. Aku sangat bersemangat hari ini karena aku sudah tidak sabar mengunjungi nenek. Terakhir kami ke Kalimantan adalah satu tahun yang lalu saat liburan kenaikkan kelas 4.

“Kak sudah siap belum? Ayo cepat kita berangkat! Nanti kita bisa terlambat lo!” Teriak ibuku yang sedag memasukkan barang-barang ke mobil. “Iya bu sebentar, aku mau mengucapkan salam perpisahan kepada meong dulu!” Teriakku dari dalam rumah. Meong adalah kucing kesayanganku, dia terlihat sedih saat aku meninggalkannya.

Link Banner

Setelah itu kami berangkat naik pesawat dari bandara Surabaya menuju Kalimantan. Akhirnya setelah kurang lebih selama dua jam aku dan keluargaku naik pesawat, akhirnya kami pun sampai di bandara Pontianak. Aku langsung memeluk dan mencium tangan nenekku yang sudah meunggu kami di bandara.

Baca Juga  Natal Berlangsung Aman, Pembimas Katolik: Terima Kasih Umat Islam dan Umat Beragama di Maluku

Perjalanan pun kami lanjutkan lagi dengan naik mobil selama 4 jam untuk menuju kampung nenekku. Kampung nenekku memang terbilang masih pedalaman, jauh dengan kota. Pemandangan di kalimantan sangat jauh berbeda dengan pemandangan di jawa. Di kalimantan masih banyak sekali hutan-hutan lebat dan bukit-bukit di sepanjang jalan.

Akhirnya kami tiba di rumah nenekku. Tidak lama kemudian, teman-temanku datang untuk mengajakku mandi ke sungai pinggir hutan. “Nek, aku mau pergi mandi ke sungai ya? Bersama teman-teman!” Teriakku kepada nenek. “Hati-hati, jangan masuk ke dalam hutan!” teriak nenekku dari dalam rumah. Aku langsung pergi bersama teman-teman dengan jalan kaki.

“Byurrrrrrr” kami melompat ke sungai. Airnya sangat jernih dan segar.

Setelah kami sudah cukup lelah bermain-main air, perut kami pun terasa sangat lapar. “teman-teman, ayo kita mencari buah ke dalam hutan! Aku sangat lapar sekali.” Kata parage temanku. “ayo kita pulang saja makan di rumah, kata nenekku kita tidak boleh masuk ke dalam hutan” kataku. “Perjalanan ke rumah masih jauh, perutku sudah lapar sekali, kita tidak akan masuk terlalu dalam ke hutan, lagi pula kami anak asli daerah sini sudah sangat hafal jalan keluar dari hutan. Kita tidak akan tersesat.” Kata temanku siti. “Biklah kalau begitu, ayo.” aku terpaksa mengikuti mereka.

Baca Juga  Doni Monardo Tinjau Lokasi Pengungsi Gempa Halmahera Selatan

Mereka berjalan sangat cepat melewati semak-semak di dalam hutan, sedangkan aku sangat kesusahan untuk melewatinya karena banyak nyamuk dan duri-duri tajam. Aku pun terkejut saat aku sudah tidak melihat mereka di depanku lagi. Aku sangat kebingungan. Aku berteriak-teriak meminta tolong dan memanggil-manggil nama teman-temanku. Tapi tidak ada yang menjawab.

Hari sudah semakin gelap. Aku menangis duduk di bawah pohon di hutan dengan perut yang sangat lapar. Tiba-tiba seorang anak laki-laki seumuran denganku datang dan membawakanku buah rambutan. Ia hanya memakai celana dan tidak memakai baju. Kulitnya kotor dan hitam. “kamu siapa?” tanyaku. Tetapi dia tidak menjawab. Dia hanya melambaikan tangan seperti menyuruhku mengikutinya. Akupun mengikutinya.
Tiba-tiba aku sudah sampai di sungai pinggir hutan tadi.

Baca Juga  Maluku dan Malut Masuk Program TEKAD, Kerjasama Kemendes PDTT dan IFAD

“Kamu dari mana saja? Kamu tidak apa-apa?” kata ayahku. Ternyata sudah banyak sekali orang yang mencariku. Aku melihat ke belakang. Ternyata anak itu sudah tidak ada, tetapi rambutan darinya masih ada di tanganku.
Sesampainya di rumah aku langsung disuruh untuk istirahat dan tidur.

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian aneh itu kepada nenekku. Kata nenekku mungkin dia peduduk dari desa di seberang hutan yang juga sedang bermain sepertiku.

Sekarang umurku sudah 19 tahun dan setiap tahun saat liburan sekolah tiba aku berlibur ke Kalimantan. Anehnya aku tidak pernah bertemu lagi dengan teman dari hutan yang sudah menyelamatkanku waktu itu, padahal aku ingin sekali bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih. Sampai sekarang aku masih mengingatnya dan ingin bertemu dengan teman dari hutan yang sudah menyelamatkanku waktu itu. Dalam hatiku aku mengucapkan terimakasih temanku. (*)