Tergerus Zaman, Kayeli Tak Lagi Diperhatikan

oleh -53 views
Link Banner

Porostimur.com | Namlea: “Kayeli bukan tertinggal, tapi ditinggalkan. Kalian Harus bisa bedakan tertinggal dan ditinggalkan. Kalian ini ditinggalkan sebenarnya,” ucap anggota DPRD Buru, Iksan Tinggapy.

Kayeli dinilai ditinggalkan dari tempat yang seharusnya bisa lebih maju dari kecamatan lainnya di Kabupaten Buru. Mengingat Kayeli merupakan tempat yang menjadi pusat perkembangan Kabupaten Buru pada masa dulu di zaman penjajahan.

Kayeli merupakan sentra aktifitas masyarakat Buru pada masanya. Namun kini hal itu tak terlihat lagi bahkan terkesan ditinggalkan dalam keterbelakangan.

Berbagai keluhan pun disampaikan masyarakat terutama saat anggota DPRD Buru, Iksan Tinggapy bersama dua rekannya Erwin Tanaya dan Naldy Wally berkunjung ke Kota Tua Kayeli, Kec.Teluk Kayeli, pada Selasa siang (2/3/2021).

Link Banner

Iksan mengingatkan bahwa, ketika ada orang datang ke sini, orang akan menyebut Kota Tua Kayeli. Sematan itu bahkan masih menempel hingga saat ini meski Kayeli tak lagi menjadi kota.

Baca Juga  Kini DPRD Maluku Memperbolehkan UMKM Berjualan Di Kantor

Mendengar hal itu. masyarakat Kayeli pun membenarkan ucapannya. Hal itu disebabkan karena sejak pemerintahan masih di Maluku Tengah hingga berdirinya kabupaten Buru yang telah berusia 22 tahun, kota tua ini telah ditinggalkan, terutama dalam hal geliat pembangunan infrastruktur, ekonomi, pertanian dan parikanan. Geliat membangun di tempat lain dari pada membangun kota tua Kayeli.

Ibrahim Wael, salah satu tokoh Kayeli mengungkapkan kalau sepupunys Raja Fuad Wael pernah melepas tanah dan diberikan kepada pemerintah kabupaten agar secepatnya kota tua itu dibangun.

Ibrahim Wael, seorang tokoh masyarakat setempat menceritakan tentang sulitnya membangun kantor Polsek dan kantor Koramil di kota tua yang masih belum dapat terlaksana karena pemerintah belum menjatah kedua instansi vertikal itu dengan sebidang tanah.

Ibrahim menegaskan bahwa masyarakat Kayeli tidak meminta yang muluk-muluk, seperti membangun sawah dan sebagainya. Tapi setidaknya ditempatkan tenaga PPL agar dapat membantu warga berkebun dan bertani dengan baik.

Baca Juga  Ambil Alih Kasus di Penegak Hukum KPK Dilindungi UU, Pengamat Minta ICW Berpikir Jernih

Menanggapi pengakuan warga, Iksan Tinggapy menjelaskan bahwa APBD II hanya sebagai stimulus atau perangsang untuk pengembangan.

“Yang disebut perangsang, artinya anggaran dikeluarkan bukannlah sebagai penyelesai masalah tapi justru sebagai perangsang yang perlu dikembangkan,” katanya.

Karena itu, baik Iksan maupun Erwin Tanaya dan Naldy Wally menggugah masyarakat untuk ikut lantang bersuara ke eksekutif guna mampu membawa pulang kue pembangunan dalam porsi yang lebih banyak dari Pemprov dan lebih khusus lagi dari pemerintah pusat.

Sementara itu, di hadapan masyarakat Naldy Wally dengan jujur mengakui apa yang dituntut masyarakat Kayeli pada tahun 2020 lalu belum seluruhnya terpenuhi, akibat dana untuk membangun seluruh kabupaten Buru hanya terfokus di APBD II. Dengan porsi APBD yang cukup kecil dan sebagian besar terserap di belanja pegawai, maka sangat mustahil seluruh keinginan warga bisa terjawab.

Baca Juga  Simpel dan Unyu dengan Mix and Match Slip Dress untuk Hijabers

Kontribusi besaran jumlah APBD II juga masih bergantung dengan DAU dan DAK pusat. Sedangkan pemasukan dari sektor pajak dan retribusi daerah masih sangat kecil dan tidak sampai empat puluh milyar rupiah.

Sedangkan Erwin Tanaya dalam kesempatan itu ikut menyentil hasil produksi pertanian dan perkebunan di Kayeli dan Batabual yang dari harga selalu kalah bersaing dengan kecamatan lain saat dijual ke kota Namlea akibat biaya tinggi menggunakan transportasi laut yang kurang memadai.

Untuk itu secara pribadi sebagai wakil rakyat dan juga Ketua Fraksi Bupolo, ia pernah meminta bupati agar menambah dermaga feri di beberapa titik. (ima)