Terhenti Langkahku

oleh -26 views
Link Banner

Cerpen Karya: Ajeng Dwi Wardani

Kau tak berhenti menangis berbicara tentangnya, dia yang telah menyakiti perasaanmu. Aku menahanmu untuk menangis, meyakinkanmu bahwa kau akan bahagia tanpanya.

“Dia udah duain aku. Kenapa dia sejahat itu?”

Ku hanya menatapnya, mencoba selalu menemani disaat kesedihannya. Dia sahabatku yang telah menyakitimu. Hanya suaraku yang akan menenangkanmu.

Link Banner

“Aku mengerti, aku sekarang sudah ikhlas.”

Hari demi hari, tak sengaja pesan terus terkirim dan terbalas. Ku tak sangka pada akhirnya dia dekat denganku. Aku mulai ada rasa untuknya, mantan pacar sahabatku.

Tidak begitu lama, kita dekat, menaruh hati dan kasih sayang. Saat itu aku tak berhenti memikirkannya. Perasaan ini apakah salah? Suka dengan mantan pacar sahabatku?

Pagi ini aku mencoba bertemu langsung dengan zilla, berharap ini kesempatan yang bagus untuk mengungkapkan semua perasaanku terhadapnya. Rasa cemas ini seakan menghantui pikiranku, berharap langkah ini tak salah kuambil. Akhirnya zilla pun datang dengan senyuman manis di bibirnya. Ia pun langsung duduk di hadapanku.

“Hai ji, maaf telat ya”
“nggak apa kok zil, aku juga baru aja sampai”
“oh okay deh kalau gitu langsung pesen aja yuk” akhirnya zilla menghentikan rasa gugupku sejenak, dipanggilah karyawan di kafe tersebut.

Setelah selesai memesan, rasa gugup ini muncul kembali. “Apa yang harus kukatakan? Apakah ini salah?” tak hentinya ku bergelut di dalam hati.

“Oh iya ji, kamu mau ngomong apa? sampai ngajak ketemu pasti ada sesuatu yang penting” Zilla langsung menodongkanku pertanyaan yang sulit untuk kujawab dan entah harus memulai dari mana.
“Hmm… gimana ya..” belum selesai ku berbicara, zilla langsung tersenyum mengisyaratkan bahwa dia tau kegugupan yang terus menghantuiku.
“Udah langsung ngomong aja.” Karyawan pun datang untuk mengantarkan pesanan minuman kita, kembali berhenti sejenak kegugupanku. Akhirnya ku mantapkan untuk berbicara kepada zilla.

“Beberapa hari ini, aku merasa nyaman zil sama kamu, iya aku paham mungkin ini salah atau bukan waktu yang tepat bagi kamu. Entah dari mana memulainya, dari tadi aku bingung tapi yang pasti aku nyaman dengan kamu walaupun memang ini salah karena kamu baru saja putus dengan sahabatku.”

Zilla hanya terdiam, menaruh kembali cappucino yang baru saja ia minum. Zilla tampak seperti telah mengetahui apa maksud dari apa yang dikatakan aji kepadanya.

Baca Juga  Baru 67% peserta JKN Maluku tercover APBN-APBD

“Begini ji, ini bukan hal yang salah kok, wajar seseorang suka atau nyaman dengan siapa pun. Aku baru saja tersenyum kembali, mengkuatkan diri kembali. Itu semua karena kamu aji. Mungkin ini waktu yang tepat untuk kita saling memperhatikan dan menaruh kasih sayang bukan sebagai teman atau karena aku mantan sahabatmu, tetapi karena aku dan kamu saling nyaman dengan kedekatan ini. Aku juga nggak tau ini terlalu cepat atau bagaimana tetapi aku rasa ini sudah cukup lama untuk aku menahan perasaan nyaman terhadapmu semenjak kamu memberikan hal positif terhadapku dengan kejadian aku sama dika kemarin.”

Aku pun memberanikan diri untuk menggenggam tangannya, menaruh keyakinan bahwa aku tak kan membuatnya menangis dan akan terus membuat senyuman itu ada. Inilah saatnya kita memulainya zilla.

“Bagaimana jika dika tau?” rasa cemas zilla muncul begitu saja, dia memang tak menjelaskan tapi ada keraguan saat dia kembali tersenyum dengan hari pertama kita jadian.
“Kita akan hadapi resikonya bersama jika dika mengetahui tentang ini. Kita jalani saja dulu sekarang.”
“Iya aji, juga dika udah duain aku. Rasanya kalau diingat, aku benci banget dengan dia.”
“sudah lupakan dan biarkan saja.”

Langit mulai berganti tak ada gelap, cerah menandakan jantung yang terus berdetak membaca semua rangkaian semangatmu. Rasa khawatir perlahan terhapus hari demi hari tanpa disadari telah merampas semua rasa sakitnya. Dia selalu tersenyum di hadapanku.

Derap langkah kaki kita terus beriringan, hari terus berganti dan terus kujalani bersama tanpa henti. Dia selalu mengerti dan tak henti menyemangati.

“Kamu besok bisa nggak nemenin aku nonton pensi di sekolah SMAku?”
“besok?”
“iya besok, bisa nggak? Kalau nggak bisa, aku pergi sendiri.”
“Bisa kok sayang hehe.”
“Makasih ya”

Baca Juga  74 Tahun Polri, Jalan Panjang Mewujudkan Polisi Berwajah Sipil

Senyuman itu selalu kurindukan disaat jiwa tak bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu hanya bisa kusampaikan lewat hangatnya malam diradio, ku selalu putarkan lagu yang bisa menyampaikan kerinduan ini.

“Aku kemarin denger kamu siaran lo, suaramu bikin kangen terus.” Ujarnya sambil tersenyum kepadaku.
“Pantes aku jadi semangat hahaha”
“Masa iya? gombal lah”
“Iya, beberapa lagu kemarin itu buat ungkapin rasa kangen aku ke kamu zil”
“Tapi aku nggak suka sama tema dari siaran kemarin.”

Ungkapannya itu membuat aku menjadi merasa bersalah karena telah mengingatkannya pada kecemasan itu. Tapi, tak henti kuyakinkan bahwa semua tidak akan terjadi.

“Aku minta maaf ya jadi buat kamu ingat kalau kita masih backstreet di belakang dika”
“Iya, aku maafin”

Malam itu pun tiba, aku bersamanya pergi ke pensi sekolah lamanya. Keramaian itu kunikmati bersamanya, kugenggam tangannya erat. Seketika harapan untuk terus bersamanya terbayangkan. Kebahagiaan itu terpancar dari raut wajahnya.

“Aku kenalin kamu ya sama temenku.”

Aku hanya mengangguk dan dia langsung menarik tanganku kehadapan temannya. Tak pernah dia berhenti tersenyum, dan tak kan berhenti ku membuatnya tersenyum. Langit semakin gelap, ku langsung mengantarkannya pulang.

Sudah beberapa hari ini, aku sibuk dengan segala aktivitasku. Aku tak yakin dia bisa sabar menunggu pesanku. Aku rasa dia tidak akan tahan dan terus merasa sedih. Aku putuskan untuk mengakhirnya, tetapi dia tidak mau dan mengajakku bertemu untuk menyelesaikan masalah ini.

“Aku nggak mau putus sama kamu.” Rangkaian kata yang tak terhenti, tangisan yang tak terhenti membuatku tak sanggup untuk memutuskannya.
“Iya aku minta maaf ya telah buatmu sedih, aku cuman nggak mau kamu sedih dan marah karena kesibukanku ini.” Kugenggam tangannya dan kuhapus air mata yang terus mengalir di pipinya.

Terik matahari mulai menyengat di tubuhku. Air keringat itu tak tersadar terus menetes dan membasahi sebagian bajuku tetapi ku telah janji mengajaknya pergi.

Baca Juga  Kabinda Malut Salurkan Makanan untuk Warga Ternate

“Hai sayang, yok berangkat”
“Berangkat kemana? Memang siapa yang mau pergi?”
“Ih kamu ya nyebelin, kan udah janji mau pergi sekarang”
“Hahaha iya sayang aku bercanda.”

Terkadang memang akan pahit menerima cibiran dari seseorang yang begitu dekat dengan kita, tak terhitung berapa hari telah kuhabiskan waktu bersamanya. Kini semua menjadi sia-sia karena wanita. Entah bagaimana ku menjelaskan tapi inilah yang terjadi. Aku paham perasaan dika setelah akhirnya dia tau bahwa aku dan zilla berpacaran. Dika tak berhenti menyindirku di hadapan banyak orang, sekarang aku harus memilih dengan baik sahabat atau cinta?

“zilla”
“Iya sayang, kamu kenapa? Ngomong aja”
“zil, dika sudah tau soal hubungan kita. Mungkin aku adalah lelaki yang pengecut tetapi aku harus memilih yang paling tepat untuk semuanya. Aku harap kamu bisa mengerti dengan keadaan ini. Semalaman sudah aku pikirkan baik-baik. Lebih baik kita memang sampai disini saja. Aku minta maaf zil, dan terimakasih atas semua kebaikan selama berbulan-bulan ini.”

Zilla hanya menatapku, berpegang pada kedua tangannya dengan sangat kuat ia mencoba membalas apa yang ingin dikatakannya. Kebohongan memang akan selalu terungkap pada akhirnya, begitu juga dengan penyelesaiannya. Zilla tak bisa menyembunyikan lagi amarah, kecewa di hatinya dan air mata pun menjadi saksi kembali kesakitan itu.

“Aku sayang banget sama kamu ji” hanya kalimat itu yang ia lontarkan. Hanya itu.

Aku mungkin harus mengorbankan satu sama lain, ini sulit untuk dilakukan tetapi hal ini tak mungkin tak kan terjadi. “Aku juga sayang banget dengan kamu zil” Cuma hati yang dapat berbicara dan mulut hanya terdiam. Tanpa disadari zilla pergi dengan meninggalkan tangis yang begitu perih untuk diingat kembali. Impian bersama zilla terpaksa harus kupatahkan dengan pertemuan pahit ini. Terhenti begitu saja tanpa ada salam perpisahan manis yang digenggam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *