Terkait Gempa Malut, BMKG Akan Pantau Aktivitas Gunung Api Sampai Tujuh Hari ke Depan

oleh -43 views
Link Banner

@porostimur.com | Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas gunung api bawah laut yang ada di sekitar lokasi gempa bumi di wilayah Ternate, Maluku Utara sampai tujuh hari ke depan.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/7) dini hari mengatakan, lokasi di sekitar gempa bumi, di Maluku Utara, terdapat banyak gunung api, dan yang dikhawatirkan adalah gunung api bawah laut sehingga BMKG akan memantau selama 24 jam dalam tujuh hari ke depan

Muhammad Sadly menjelaskan gunung api bawah laut terdapat di wilayah utara Manado dan sekitar Ternate sehingga harus terus dipantau.

Baca Juga  KM Panji Saputra Milik TNI Hilang Kontak Tujuh Hari Di Perairan Maluku

Menurut Sadly, BMKG juga memantau kondisi terkini di wilayah Maluku Utara khususnya terkait gempa susulan yang sudah terjadi sebanyak 19 kali hingga Senin pukul 00.54 WIB.

“Kami pantau gempa susulan sudah 19 kali dan relatif menurun. Kami harap terus menurun dan bisa menjadi stabil,” ujarnya.

Sadly mengatakan BMKG akan berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam memantau antivitas gunung api bawah laut di wilayah sekitar Malut.

Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati  menilai gempa bumi yang terjadi di Ternate, Maluku Utara pada Minggu (7/7) malam merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada lempeng Laut Maluku.

Dwikorita mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada lempeng Laut Maluku.

Baca Juga  Jelang Pergantian Tahun, Harga Telur Naik di Maluku dan Papua

Menurut Dwikorita, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik atau thrust fault akibat adanya tekanan atau kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur.

Akibatnya menurut dia, lempeng laut maluku terjepit hingga membentuk double subduction ke bawah Halmahera dan ke bawah Sangihe. (red)