oleh

Ternate Mesti Seriusi Transmisi Lokal

Link Banner

Penulis: Sofyan Daud, Pimpinan Komunitas Garasi Genta, Pemerhati masalah sosial budaya, Anggota DPRD Maluku Utara

Saya menulis ini sebagai warga yang bermukim, menjalani kehidupan normal puluhan tahun di kota ini: Ternate Majang dan kini Ternate Bahari Berkesan.

Dekade-dekade indah, tentram, tanpa pembatasan aktivitas, ibadah, berkumpul, bercengkrama, tanpa kewajiban mengenakan masker, tanpa keseringan cuci tangan, dan terutama tanpa rasa cemas dan wiswas seperti sekarang.

Dua bulan belakangan, kota indah, ramah, ramai dan berlimpah karunia ini tetiba menjelma kota kaku, aktivitas menjadi melamban, terbatas. Kehidupan pun terasa berat.

Cemas juga wiswas pada pandemi dan dampaknya begitu terasa, terutama oleh kalangan menengah ke bawah.

Harga bahan- bahan kebutuhan naik, sementara pendapatan berkurang. Sebagian warga bahkan kehilangan pekerjaannya, kehilangan sumber pendapatan untuk menafkahi keluarga.

Sayangnya rasa cemas, wiswas, ruang gerak pun aktivitas yang terbatas, kesulitan hidup yang mendera, tampak kontras dengan kesadaran pun ikhtiar sebagian warga.

Angka-angka penjangkitan Covid pada semua kategori; positif, PDP, OTG, bertambah begitu cepat hanya dalam hitungan minggu dan kini hari. Kematian mulai mengisi tabel-tabel data gugus tugas, yang sebelumnya kosong.

Ironinya aktivitas sebagian warga di kota ini dalam masa dua bulan pandemi relatif status quo. Data-data merah masih belum menyentak hati, membuka mata dan pikiran semua warga.

Kota ini masih relatif ramai, padat. Seolah tak sedang ada wabah berbahaya. Mereka yang masih sibuk dalam kerumunan, keramaian itu seolah tidak merasakan dampak psikologis, sosial dan ekonomis dari pandemi ini.

Tiap kali memantau aktivitas kota, saya sedih, masih cukup banyak orang lalu lalang, berkerumun, santai, tak peduli di tengah situasi ancaman wabah, juga ancaman kehidupan sebagian warga yang nyata-nyata singsara.

Padahal dalam pendekatan pemecahan masalah (problem solving), satu masalah yang tak terpecahkan akan membiakkan satu atau lebih masalah lain, begitu seterus rantai masalah akan bertambah banyak, ruwet.

Baca Juga  Polres Halbar Selidiki Kasus Penganiayaan Kades Pateng

Apa artinya? Jika pandemi dan situasi krisis tak segera teratasi dan berlangsung makin lama, maka dampak kesulitan hidup dan sebagainya yang sekarang dirasakan oleh warga pasti juga berlangsung lama, pastinya juga akan semakin parah, terlebih lagi akan sulit dipulihkan.

Kapasitas pemerintah dalam menangani pandemi dan dampaknya yang kini tampak terbatas, jika tak mau menyebutnya gagap, akan semakin berkurang seiring beban persoalan yang terus bertambah banyak, kompleks.

Di situ titik krusialnya. Lihat saja berbagai dampak atau akibat pandemi yang pada saat ini pun masih belum tertangani cecara baik dan efektif, bagaimana lagi jika masalah ini dibiarkan semakin lama, meluas dan kompleks. Akan semakin berat dikendalikan.

Sudah banyak yang mengingatkan pentingnya respon, kesadaran, kepatuhan dan kerjasama pemerintah dan stakeholder, juga kerjasama antarwarga.

Bukan seperti yang kita lihat saat ini. Miris. Sebagian warga tidak berlaku sebagaimana warga kota yang benar-benar merasa cemas, waswas, takut bila keterbatasan, kesulitaan hidup yang ada akan berlangsung lama, dan akhirnya mereka benar-benar singsara.

Padahal hanya dengan modal sedikit sabar, patuh, kompak, saling mendengar, saling menopang, mau bekerjasama, kita bisa mengendalikan situasi krisis ini lebih cepat membaik. Berangsur-angsur normal.

Kita semua tentu saja merindukan suasana normal seperti sediakala, karenanya mari baku dengar, baku percaya, baku tongka, “fo marimoi, rubu-rubu rame, doka saya rako moi”, supaya torang capat bale ke kehidupan normal, yang sama-sama torang rindukan.


Saya menulis ini semata-mata tanggung jawab moral mengingatkan pemerintah dan warga Ternate. Tabea, mari kita perhatikan dan pikirkan dengan tenang dan saksama.

Baca Juga  Jokowi Sederhanakan Birokrasi, Pranata Humas Jadi Pilihan

Jumlah penduduk Kota Ternate adalah 228.105 jiwa. (Ternate Dalam Angka 2019). Sebanyak 198.241 jiwa penduduk atau sekitar 87 persen, bermukim di dalam wilayah tiga kecamatan: Ternate Selatan 78.300 jiwa, Ternate Tengah 63.960 jiwa, dan Ternate Utara 55.981 jiwa.

Mungkin ada di antara warga belum tahu. lupa , semoga bukan abai, bahwa jarak antara batas kecamatan Ternate Selatan di kelurahan Sasa-Jambula ke batas kecamatan Ternate Utara di Kelurahan Tarau – Kulaba (Batu Angus), hanya kurang lebih 20 Km. Dekat. Dekat sekali.

Jika titik “0” ditempatkan di Terminal Gamalama, maka jarak antara terminal Gamalana ke Sasa hanya kurang lebih 11,1 Km, dan jarak dari Terminal Gamalama ke Batu Angus hanya kurang lebih 8 Km.

Kita juga patut memperhatikan saksama, tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi dalam ketiga kecamatan ini. Kepadatan tertinggi di Ternate Tengah, 4.824 jiwa/Km2, menyusul Ternate Utara, 4.022 jiwa/Km2, dan Ternate Selatan 3.872 jiwa/Km2.

Dalam wilayah ketiga kecamatan terdapat begitu banyak pusat kegiatan jasa perdagangan, ruang publik, perkantoran, lokasi aktivitas sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Di Sasa terdapat pasar, Bastiong Karance terdapat pelabuhan feri, Bastiong Talangame terdapat pasar, terminal dan pelabuhan antarpulau, Manggadua terdapat pelabuhan semut, Toboko terdapat taman/ruang publik, Kota Baru terdapat pasar dan pelabuhan A. Yani dan pelabuhan antarpulau, Muhajirin terdapat taman/ruang publik, Gamalama terdapat pasar rakyat, terminal, Mal, pertokoan, taman/ ruang publik, Soasio terdapat Hypermart dan lapak pedagang sekita Dodoku Ali, di Dufadufa terdapat pasar, terminal dan pelabuhan antarpulau, dan di Akehuda-Tafure terdapat Bandar Udara.

Semuanya menjadi titik lalulintas manusia dan kendaraan, juga titik konsentrasi warga dengan skala yang berbeda-beda.

Belum lagi selama bulan Ramadhan, begitu banyak lapak pedagang kukis buka puasa, yang tersebar dan menjadi titik kerumunan dan interaksi warga, pada ratusan titik, sepanjang jarak yang hanya 20 kilometer: Sasa sampai Tarau. Jangan lupa warung makan, kafe, restoran.

Baca Juga  HPMK Minta Kajari Usut Dugaan Kasus Korupsi Mantan Kades Kawata

Sampai di sini, saya pikir imajinasi dan analisa Anda dapat menangkap apa yang sedang saya pikirkan, dan apa yang sedang saya pikirkan dan dituangkan dalam tulisan sederhana ini, semoga menjadi imbauan atau ajakan kepada kita untuk bersama dan proaktif mengambil tindakan antisipatif cepat dan konkrit.

Sebulan lalu, saya mewacanakan solusi “kunci kampung” (lockdown village). Alhamdulillah sekarang beberapa kelurahan terinspirasi dan mencanangkan “jaga kampung”. Dalam wacana itu saya juga mengingatkan tiga aspek penting yang mesti dipahami dan dikelola: geografis-teretorial, kemajemukan atau homogenitas masing-masing kampung, juga analisis tingkat kepatuhan warga dan lain-lain aspek sosio kultural.

Mengapa aspek-aspek tersebut penting? Kita mengendalikan wabah yang mengancam keselamatan manusia, yang menularkannya juga manusia, yang terdampak akibat dari krisis ini pun manusia. Kesadaran dan kecerdasan geografi-teritorial, kecerdasan dan kepekaan sosial-kultural adalah hal niscaya untuk mengefektifkan pengendalian situasi krisis yang pelik ini.

Kita tak boleh lupa, manusia adalah makhluk kompleks, tetapi juga makhluk sosial, makhluk berpikir, makhluk dengan kemampuan adaptif dan hasrat mempertahankan hidup lebih baik dari makhluk Tuhan manapun juga.

Yang dibutuhkan adalah kapasitas kesadaran dan kecerdasan penentu kebijakan akan kestiga aspek tersebut. Dengan begitu, para pengambil kebijakan akan sedikit mudah, setidaknya lebih terarah mengendalikan situasi ini, yang pada pokoknya adalah mengendalikan manusia, pikiran, tindakan atau akativitasnya.

Tabea. Jika tulisan sederhana ini mengandung kebaikan, maka ambillah untuk tambahan informasi juga pertimbangan barangkali. Jika dipandang tidak bernilai maka abaikan saja.

Syukur dofu. (*)

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed