Ternate, Sultan Muhammad Jabir Syah dan Federalisme yang Terlupakan

oleh -878 views
Keraton Kesultanan Ternate

Jejak sejarah itu masih dapat dilihat dari benteng-benteng peninggalan Portugis dan Belanda, masjid-masjid tua, hingga praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Sebagai kesultanan Islam besar, Ternate juga mencatatkan sejarah penting ketika di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis pada tahun 1575—sebuah tonggak penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara.

Dari Kesultanan ke Republik

Memasuki awal kemerdekaan Indonesia, peran Ternate kembali mengemuka. Di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Jabir Syah, Kesultanan Ternate mengambil posisi strategis dalam mendukung Republik Indonesia yang baru diproklamasikan.

Diskusi mengenai federalisme antara Soekarno-Hatta dan Sultan Ternate, khususnya Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah (memerintah 1930-1975), terjadi dalam konteks pergolakan revolusi fisik dan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) antara tahun 1946 hingga 195

Sultan ke-47 ini menyatakan dukungan terhadap Indonesia dengan satu gagasan penting: sistem federal. Ia bahkan berdialog langsung dengan Soekarno dan Mohammad Hatta pada Tahun 1950.

Baca Juga  5 Zodiak yang Dikenal Paling Jago Menenangkan Diri Sendiri

“Saya mengharapkan (adanya persatuan dalam) republik. Tapi sistemnya federal. Masing-masing urus dirinya sendiri. Kecuali tentara yang harus bersatu,” ucap Sultan Muhammad Jabir Syah.

No More Posts Available.

No more pages to load.