Percakapan mereka berlangsung dalam bahasa Belanda, mencerminkan tradisi diplomasi elite saat itu:
Sukarno: Dus de Sultan wil lid worden van de republiek?
( jadi Pak Sultan mau bergabung dengan republik?)
Sultan: Het spijt me, ik wil een republiek, maar het systeem moet federaal zijn
(maaf saja, saya mau republik, tapi sistemnya federal.)
Hatta: wees later niet later federaal
(jangan dulu federal. Nanti saja belakangan)
Hatta: Het concept van de eenheidsstaat is slechts een kunstje. Tenminste tijdelijk tot we sterk zijn. Nieuw gevestigde landen zullen het moeilijk vinden om te overleven als ze de federatie rechtstreeks toepassen
(konsep negara kesatuan ini siasat saja, setidaknya bersifat sementara sampai kita kuat. Negara yang baru berdiri akan sulit bertahan jika langsung menerapkan federasi).
Sultan: Oke meneer Hatta
Wajah Sultan Jabir tetap tenang saat mengucapkan itu. Hanya intonasinya yang terasa memberi penekanan.
Federalisme yang Terlupakan
Percakapan tersebut menggambarkan perdebatan mendasar tentang bentuk negara Indonesia. Mohammad Hatta dikenal tegas mendorong otonomi daerah, meski pada akhirnya gagasan itu tidak sepenuhnya terwujud.
Ia bahkan mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden pada 1 Desember 1956—sebuah langkah yang kerap dikaitkan dengan kekecewaannya terhadap arah politik nasional.










