oleh

Tiga Puisi Falantino EL

Link Banner

CORONA

seribu orang menghitung daki, ingus, dan dahak
sedang aku bergulat dengan bayangan

seribu orang mengenakan masker, face shield, dan hand sanitizer
sedang aku bolak-balik buka kamus mencari arti keselamatan

seribu orang masih mendermakan uang di rumah ibadah
sedang aku menggadaikannya pada suanggi atau doa di lini masa

sejak kapan kemungkinan menjadi lebih tinggi harganya dari semua yang niscaya?

============

BALADA GLENDA

Glenda namanya
Ia adalah algoritma
yang setiap saat bisa berubah jadi
setan maya

Glenda punya banyak mata
di tubuhnya
ia bahkan punya semacam sungut
di kepalanya
yang bisa menyetubuhi siapa saja
dengan benci yang tanpa kira-kira

Glenda tak bisa mati
ia menkloning dirinya jadi seribu satu
wajah virtual
Ia gentayangan
mengatur dunia
melipat siapa saja
ke dalam simpul-simpul sosial media

Baca Juga  Peringati Hari Ibu, Kapolda Malut: Perempuan Berdaya Indonesia Maju

Glenda adalah bunga
semacam monster flora
mencari akar untuk menancap
menghisap
sampai jadi serpihan karbonmonoksida

Glenda bukan orang jahat
Ia sungguh orang baik yang marah saja
karena sakit yang tak bisa dicari obatnya
adalah sakit hati sakit jiwa

Glenda, Glenda, Glenda
racun dunia
ia bagai lagu yang tercipta
saat panggung sudah padam cahaya

=========

AVE MARIA

seorang perempuan berdiri di haribaan senja
di antara rumpun pakis, pucuk kelapa
dan dedaunan jati sisa-ranggas
pandangnya ia lemparkan ke puncak gunung
lalu mulai bernyanyi:
Ave Maria, gracia plena…

Sementara dunia di lembah bawah sana
sedang hardik cemas
terbelenggu rundungan teror dan bencana
perempuan itu mulai menangis
sambil bernyanyi:
Ave Maria, gracia plena…

Baca Juga  Danlantamal VIII Ikuti Musrenbang RKPD Tahun 2021 Melalui Vicon

Sebelum tahun-tahun gelimang mara
Ia sudah menyanyikan pesan malaikatul
tentang bumi dan manusia yang rapuh
yang tak lebih adalah plasma
apalagi sesakti metafora biji sesawi
tapi orang-orang menertawakan
bahkan meludahinya
saat ia baru mengucap huruf pertama nyanyiannya:
Ave Maria, gracia plena…

Senyampang lagunya menggema
perempuan pun jatuh dalam tangis
yang makin lara
saat asap makin menebal dari bawah sana
jiwa-jiwa yang mati beterbangan
mencari lapisan-lapisan langit
tempat mereka bisa berdiam dan bernyanyi
Ave Maria, gracia plena…

Perempuan itu berhenti bernyanyi
saat gelap sudah turun
dan lampu-lampu jalan menjadi pias seperti kain kafan
dari balik jubahnya yang hitam
ia keluarkan bola dunia yang berputar
sambil mendenting gumam nada serupa piano
Ave Maria, gracia plena…

Baca Juga  Javier Delgado, Walikota yang Dipasung Warganya

=========

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed