Tiga Puisi Rudi Fofid

oleh -209 views
Link Banner

KETIKA JOU MADUTU BUNUH DIRI

Dulu, hanya ada Jou Madutu dan laut
Mereka bikin persentuhan-persentuhan
Karena hanya kepada laut saja
Jou Madutu tumpahkan garam cinta

Jou Madutu mengajari malaikat berenang
Menaruh pelana, menunggang punggung ombak
Mereka semedi di pusaran arus
Jou Madutu memang jaya di laut

Jika Jou Madutu turun basah-basuh di laut
Maka gelombang laut mekarkan senyum panjang
Mereka bercumbu terus-terus tanpa kenal hari
Sebab dulu, Jou Madutu belum ciptakan hari

Saking intim Jou Madutu dan laut
Maka suara ombak adalah suara Jou Madutu
Suara arus adalah suara Jou Madutu
Suara laut adalah suara Jou Madutu
Jou Madutu merias laut kesayangan jadi molek
Bunga karang di tengah padang rumput laut
Ikan duyung, lumba-lumba, kuda laut
Ketimun laut, papeda laut, ganggang menari

Walau begitu besar cintanya pada laut
Jou Madutu lantas berikan harta pusaka itu
Kepada makhluk yang dia citrakan
Agar makhluk itu bisa nikmat di laut

Jou Madutu pun mengundurkan diri dari laut
Pergi ke satu gunung biru dekat langit tertinggi
Dari sana, Jou Madutu kirim salam kepada laut
Maka laut merona, keningnya bening biru hijau

Sejak itu, makhluk ciptaan Jou jatuh cinta pada laut
Laut ditimang, dibelai, dirayu, dicumbu, disayang
Laut balas cinta itu dengan sempurna
“Segala padaku, milikmu jua,” kata laut

Makhluk citraan itu membuat kesalahan asmara
Cinta laut biru kepada segala makhluk itu
Laksana gelombang susu dan madu
Telah dibalas dengan kuah akar tuba

Baca Juga  ZADI-IMAM Ingin Tingkatkan Program Pemberdayaan Berbasis Pendidikan

Laut telah ditiduri secara terlentang
Rahimnya dijaring harimau raksasa
Setelah selangkangannya dilempari bom
Putingnya dioles potassium sianida sialan

Bibir laut telah ditempel reklamasi ambisius
Boulevard tak cerdas dan gedung sombong
Dari sana zombi-zombi peradaban beraksi
Buang kondom dan pembalut bekas ke mulut laut

Laut sudah tua, ia sebaya dengan Jou Madutu
Walau terluka, diperkosa, diberaki
Ia mencoba senyum dengan kemilau mutiara
Sebab laut tidak pernah membangkang kodrat

Laut tetap merelakan dirinya jadi hamba
Ia tidak pernah protes, tidak pernah unjuk rasa
Bahkan tsunami yang cakalele sekalipun
Bukanlah skenario buruk dari jantung laut

Laut tidak pernah mengeluh lelah
Sekalipun di tubuhnya yang kemayu
Bergelantungan kapal-kapal besi penuh ambisi
Dan plastik ton-ton bagai toga dan salempang

Hari ini bila orang dayung sampan ke tengah laut
Jika jiwanya masih perawan tulen
Dia akan sampai ke lubuk laut paling dalam
Menemukan luka laut adalah luka Jou Madutu

Baca Juga  Duit Rp72 Miliar buat Influencer Terlanjur Dipandang Liar, Terendus Modus Tersembunyi Jokowi

Bahwa di tengah deru ombak yang bariton
Ada suara isak-tangis Jou Madutu yang tak dikenal
Bahwa di tengah pusaran air dan ombak pica-pica
Ada air mata Jou Madutu berbusa-busa, juga tak dikenal

Jika cinta laut yang suci terus saja dikhianatiPercayalah, akhirnya Jou Madutu putus asa juga
Jangan kaget jika ada mayat mengambang
Jou Madutu buang badan, bunuh diri, mati di laut

Rumahtiga, 1 Juni 2020

======

NUKILA SAYANG E

Waktu kau masih merah-merah
Ibumu menyanyikan kabata
Tentang satu anak perdamaian
Maka ketika kau jadi jujaro
Kau diutus demi misi suci itu
Kau seberangi arus bening
Antara Rum dan Bastiong

Kau seduh satu poci kopi dabe
Bayanullah angkat cangkir
Fransico Serrao angkat cangkir
Sejak itu, arus sejarah dunia belok arah
Kedaton Ternate bergetar
Maluku dan Malaka tak punya jarak
Seperti dapur dan rumah besar

Seribu ombak putih Halmahera
Bergetar di jantungmu
Kapal hilir-mudik
Dinding benteng retak
Jantungmu terbelah
Diiris tipis-tipis
Disiram cuka

Sanggupkah jiwamu setenang Ake Sentosa
Manakala harus adil kepada diri sendiri
Tidore itu kau, Ternate itu kau
Cintamu tercurah pada buah rahimmu
Deyalo, Boheyat, Tabariji di kilau pedang Tarawese
Kau perlu mencintai Khairun
Demi kesucian kabata ibumu

Baca Juga  Wakil Bupati Halsel Terpilih Hadiri Peringatan Harlah PMII ke 61 Tahun

Hitam arus sejarah ternyata melebihi pekat kopi dabe
Kau didamparkan di pasir tak dikenal di dasar cangkir
Nukila sayang e, Dona Isabella
Air matamu sepahit empedu
Kau lakoni seluruh peran perih secara sangat cantik
Apakah kau juga datang dari kemewahan bianglala
Lantas diam-diam kau terbang dengan cara yang sama?

Di dadamu, Kie Matubu dan Gamalama sama berkabut
Kau ingin embun selalu jatuh dari sana
Tetapi kau dapati lahar dari panas ambisi rampa-rampa
Kau satu-satunya perempuan berkerudung sunyi
Air matamu telah jadi satu gelombang pahit dan kekal
Berkecamuk di Ternate-Tidore-Malaka-GoaLisabon-Vatikan
Setelah kau kenakan kerudung sunyi, senyap, len yap

Hukunalo, 2 Juni 2020

========

VIRUS CINTA

Kabar bohong terbesar abad ini adalah tiada obat lawan corona. Padahal corona bisa dilawan dengan virus cinta.
Maka jika kekasihmu terinfeksi corona, jangan gementar. Pergi temui kekasihmu. Buang maskermu dan maskernya. Sesudah itu, ciumlah bibirnya dan sekujur tubuhnya. Di bibirmu yang berani, ada virus-virus cinta yang sanggup melemahkan corona.

Rumahtiga, 2 Juni 2020