Tsunami 1674 di Ambon, Laporan Tertulis Tertua di Indonesia

oleh -98 views
Link Banner

Naskah Ilmuwan Georgius Everhadus Rumphius (1627- 1702)

LAUT susut. Mengering.

Tak lama gelombang dahsyat muncul. Menerjang dan menghantam kampung-kampung di pesisir Ambon.

Orang-orang panik, tak berdaya. Mayat-mayat bergelimpangan.

Inilah cuplikan kisah nyata tentang tsunami yang terjadi di Ambon dan sekitarnya. Kalender menunjukkan tanggal 17 Februari 1674.

Naskah ini ditulis ilmuwan besar Rumphius. Pada 17 Februari itu, di Ambon, orang-orang Cina merayakan Imlek, tahun baru, hari besar Tionghoa.

Tiba-tiba, bumi bergerak bagai berayun-ayun. Lonceng gereja berdentang sendiri. Rumah-rumah runtuh.

Di kawasan perbukitan terjadi longsor, tanah merekah lebar, jembatan runtuh dan banjir dimana-mana.

Gempa sangat dahsyat mengguncang Ambon dan sekitarnya. Di laut gelombang raksasa menyapu pemukiman pesisir.

Rumphius mencatat, gempa disertai tsunami itu merenggut korban meninggal sebanyak 2.200 orang.

Dalam naskah yang diterbitkan tahun 1675, Rumphius memberi judul “Waerachtigh Verhael van der Schierlijke Aerdbevinge” atau Kisah Nyata tentang Gempa Bumi yang Dahsyat.

Menurut ilmuwan kelautan Dr Anugerah Nontji (Penjelajahan dan Penelitian Laut Nusantara dari Masa ke Masa, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI ,2009) naskah ini sebagai laporan tertulis tertua mengenai gempa dan tsunami di Indonesia.

Baca Juga  Dua Warga Ternate Hilang, Satu Ditemukan Tak Bernyawa

Rumphius menyandang nama lengkap Georgius Everhadus Rumphius. Ia lahir di Jerman, pada 1627. Ia kemudian masuk dinas militer Belanda.

Namun, masa dinasnya sebagai anggota militer Belanda tidak berlangsung lama. Karena minat Rumphius pada botani dan zoologi, ia memilih tak lagi bekerja di dinas militer.

Ambon merupakan pilihan hidup selanjutnya. Rumphius menghabiskan hidupnya di darah kepulauan itu. Sejumlah karya lahir dari daerah ini, dari gagasan dan pemikiran Rumphius.

Ketika terjadi peristiwa gempa bumi dahsyat, seperti ditulis di atas, orang yang disayanginya meninggal dunia. Bencana gempa mengakibatkan Rumphius kehilangan istri dan seorang putrinya. Mereka tertimpa reruntuhan dinding yang roboh.

Kehilangan istri dan anak, tak membuat Rumphius pupus semangatnya. Selain mengenai hewan laut, Rumphius menulis berbagai hal.

Hebarium Amboinense, karyanya paling monumental. Naskah ini berisi deskripsi tumbuhan, lingkungan dan juga kegunaan untuk obat-obatan. Baik itu tumbuhan yang hidup di darat maupun yang di laut.

Baca Juga  Update Corona Ahad 12 April: Total 4.241 Orang Positif Covid-19

Menurut Anugerah Nontji, salah satu lukisan tertua mengenai alga laut dari perairan Nusantara tercantum dalam buku itu. Maha karya lain yang juga sangat tenar adalah D’Amboinsche Rariteikamer.

Naskah ini menguraikan berbagai jenis hewan laut yang terdapat di Ambon seperti udang, kepiting, kerang, siput, bintang laut, bulu babi (sea urchin) karang dan lainnya.

Selain itu, terdapat beberapa hal mengenai mineral dan peninggalan pra-sejarah yang ditemukannya di sekitar Ambon. Naskah ini diterbitkan François Halma di Amsterdam tahun 1705.

Rumphius menulis dengan gaya yang memukau. Misal, bagaimana menggambarkan kehidupan hewan, sebaran geografi, pemanfaatannya oleh masyarakat dan sebagainya.

Kedua maha karya ini dilengkapi dengan ilustrasi yang indah dan detail, sangat akurat. Sampai kini pun maha karya ini akan menjadi sumber rujukan.

Menurut tokoh tenar dalam arkeologi Nusantara, Heine-Geldern (1945), Rumphius adalah ilmuwan Eropa pertama yang mempunyai perhatian akan masalah prasejarah di negeri ini.

Baca Juga  Fix, Pelaksanaan STQ Nasional 2021 Maluku Utara Bulan Oktober"

Dalam buku D’Amboinsche Raiteitkamer, Rumphius memberikan tempat satu bab khusus untuk membahas kapak batu dan satu bab lainnya untuk kapak perunggu dari zaman pra-sejarah.

Naskah Rumphius selanjutnya, Amboinsche Dierboek mengenai kehidupan satwa. Naskah itu habis dilalap api ketika terjadi kebakaran besar yang melanda Ambon pada 11 Januari 1670.

Banyak peristiwa yang dialami Rumphius. Naskah Herbarium Amboinense hilang karena kapal Waterland yang membawa naskah itu ke Belanda dihadang dalam satu pertempuran laut dengan Perancis.

Kapal tenggelam beserta seluruh isinya. Beruntung Gubernur Jenderal Camphuys di Batavia sempat membuat duplikat atau salinannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Rumphius mengalami penyakit mata. Penyakit ini membuatnya menjadi buta.
Dengan kondisi seperti itu, tak menghalanginya untuk bekerja. Selama 50 tahun Rumphius menghabiskan masa hidupnya di Ambon, dengan melahirkan sejumlah karya yang abadi. (*)

Sumber: darilaut.id