Tsunami Non Tektonik Potensial Terjadi di Maluku Tengah, Ini Pemicunya

oleh -880 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Wilayah Pulau Seram, Maluku Tengah memiliki potensi bahaya tsunami non tektonik. Tsunami non tektonik ini yang bukan disebabkan gempa. 

Hal ini dikatakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, ujar Dwikorita, dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

Dia menjelaskan dari hasil penelusuran dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG di Pulau Seram menunjukkan sepanjang garis daerah tersebut merupakan laut dalam dengan tebing curam yang rawan longsor. 

“Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami,” bebernya.

Dalam kunjungannya ke Pulau Seram, Dwikorita sempat menyambangi Negeri Samasuru, Negeri Amahai, Kota Masohi, dan Negeri Tehoru. Di sejumlah daerah itu, selain melakukan verifikasi peta bahaya dan menyusuri jalur evakuasi, ia dan tim BMKG juga mendengar kesaksian dan cerita warga tentang terjadinya gempa dan tsunami. 

Baca Juga  Warga Siri Sori Amalatu Tewas Ditembak OTK

“Di Negeri Tehoru saya melihat langsung jejak tanah yang longsor ke laut. Di Samsuru, warga setempat bahkan telah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas bibir pantai. Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter,” jelasnya. 

Pun, ia mengatakan, hingga saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi tsunami non tektonik secara cepat, tepat dan akurat. Kata dia, sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara di dunia adalah sistem peringatan tsunami yang dipicu guncangan gempa. 

Menurut dia, yang bisa selama ini dengan memantau muka air laut dengan buoy dan tide gauge. Meski demikian, ia menekankan cara tersebut masih kurang efektif. Sebab, sifat alat yang menginformasikan usai kejadian tsunami. Maka itu, saat alat tersebut memberikan warning sudah terlambat, tsunami sudah datang.

Baca Juga  Gugatan Petahana Hendrata Thes Ditolak MK, Fifian Adeningsi Mus Bupati Perempuan Pertama di Malut

“Dipicu longsoran bawah laut maka estimasi waktu kedatangan gelombang bisa sangat cepat. Hanya dalam hitungan menit, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” tuturnya. 

Maka itu, Dwikorita mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang garis pantai di Pulau Seram untuk segera melakukan evakuasi mandiri. Evakuasi ini jika merasakan guncangan gempa sehingga tanpa harus menunggu peringatan dini BMKG.

“Segera lari begitu merasakan getaran tanah atau gempa. Jauhi pantai dan segera lari ke bukit-bukit atau tempat yang lebih tinggi,” sebutnya. 

Kemudian, ia menambahkan, Kepulauan Maluku memiliki sejarah panjang gempa bumi dan tsunami. Ia juga berharap agar pemerintah daerah melakukan berbagai upaya mitigasi. Tujuannya, untuk mengurangi dampak dan risiko kerugian jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami terjadi. 

Baca Juga  Ironi, 23 Tahun Reformasi Berbuah Dinasti Politik

“Masyarakat harus terus dilatih sehingga tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Di samping penyiapan shelter dan jalur-jalur evakuasi aman beserta rambu-rambu,” katanya.

(red/viva/bmkg)

No More Posts Available.

No more pages to load.