Orno Sesali Sopi yang Ditumpahkan ke Tanah

oleh -82 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Acara peringatan HUT Bhayangkara di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Rabu (10/7), dipungkasi dengan pemusnahan minuman keras (miras) jenis sopi hasil operasi institusi penegakan hukum dimaksud.

Turut hadir dalam peringatan dimaksud, Bupati MBD, Benyamin Thomas Noach dan Ketua DPRD MBD, Chau Petrus.

Bahkan dalam siaran langsung media sosial Facebook, Oyang Noach, sapaan akrab Bupati MBD saat ini, bersama-sama dengan Chau Petrus, menumpahkan miras ke tanah sebagai bentuk penegakan pemberantasan peredaran miras.

Sayangnya, aksi kedua pentolan kepemimpinan MBD ini menuai kritikan salah satu putra asli MDB sendiri, Drs Barnabas Orno.

Link Banner

Saat berhasil dikonfirmasi wartawan, di Ambon, Rabu (10/7), Orno menyampaikan penyesalan atas tindakan keduanya dari sisi moral.

Pasalnya, selaku anak daerah keduanya tidak seharusnya menumpahkan miras tradisional yang cenderung menjadi mata pencaharian masyarakat setempat.

Terlebih, sopi ini menjadi salah satu komoditas adat pada beberapa wilayah di Maluku, termasuk di MBD sendiri.

”Saya tadi melihat di Facebook. Penegak hukum itu tumpas sopi, itu biasa dan wajar. Tapi, seorang bupati dan seorang ketua DPRD, anak MBD yang lahir dari keringat itu, kemudian beliau berdua jadi orang, dengan sikap begitu, sangat disayangkan,” ujarnya.

Baca Juga  Natal-Tahun Baru, 3 pilar kamtibmas gelar apel

Diakuinya, sesuai penegakan hukum, peredaran sopi harus dilarang, terlebih sering disalahgunakan oleh kalangan tertentu masyarakat.

Namun sisi historikal dan kultural, tegasnya, harus menjadi pertimbangan bagi kedua pemimpin MBD itu, saat menumpahkan sopi ke tanah.

”Selama saya jadi Bupati di MBD, ketat aparat penegak hukum yang menyita sopi di kapal. Ini kita bicara seperti ini harus ada dua sisi. Kalau saya hari ini anak MBD dari sisi moral yang saya lihat. Kalau itu saya ikut menyaksikan sopi ditumpah di luar MBD, suatu kebetulan mungkin. Tetapi kalau di tanah MBD yang tanah leluhur saya, ketika kami ada masalah, maka mediasi akan dilakukan secara adat, salah satunya menggunakan sopi. Di MBD, kalau tidak ada itu (sopi-red), kan masalah tidak selesai. Saya juga disana kan mengarahkan rakyat jangan sampai minum berlebihan, saya juga tidak mau,” jelasnya.

Pertimbangan ini pula, akunya, yang menimbulkan rasa tidak tega bagi dirinya, tatkala hendak melakukan pemberantasan miras jenis sopi.

Baca Juga  Kapolda Malut & Ketua Bhayangkari Menyerahkan Bantuan Beras Secara Simbolis Kepada Masyarakat yang Terdampak Covid-19

”Tadi saya melihat di Facebook, menyaksikan, melihat langsung Bupati dan Ketua DPRD yang putra MBD turut menumpahkan itu sopi. Keringat rakyat itu. Saya menangis. Selama saya jadi bupati di sana sudah delapan tahun saya tidak pernah. Kalau itu di luar daerah, ya tidak apa-apa. Karena di luar daerah kan tidak mengenal itu. Tapi di dalam MBD, sayang sekali. Sayang sekali, padahal Pak Oyang Noak dan Pak Chao Petrus itu mereka berdua minum sopi. Dan saya di sana minum sopi juga minum dari mereka,” sesalnya.

Tidak dipungkirinya, banyak putra MBD berhasil menempati posisi penting justru datang dari latar belakang keluarga yang berpenghasilan memproduksi dan menjual sopi.

Sikap keduanya, tegasnya, justru bertentangan dengan nilai adat yang berlaku di tengah masyarakat MBD yang menggunakan sopi sebagai salah satu sarana memediasi perselisihan dalam masyarakat adat di MBD.

”Jadi dengar, anak-anak MBD yang kebanyakan jadi professor-doktor itu dari keringat itu. Saya tidak bicara masalah sopi di luar MBD ya. Itu bukan baru lho. Itu sejak leluhur. Dan sopi tidak bertujuan untuk mabuk. Tapi saya menyaksikan Pak Oyang Noach dan Pak Chao Petrus. Kan keringat rakyatnya sendiri. Di tanah leluhurnya sendiri itu sangat sangat sedih. Sangat sedih saya. Saya bicara dari sisi moral, dari sisi kemanusiaan, dari sisi putra daerah, anak daerah. Kalau sopi ditumpah di luar MBD ya mungkin itu wajar-wajar saja. Saya sangat prihatin soal itu. Sangat prihatin. Kasian semua orang MBD pasti menangis. Kalau saya yang Bupati MBD, silakan Pak Kajari dan Pak Kapolres. Tapi saya tidak ikut menyaksikan. Karena ini di tanah leluhur. Saya menyaksikan langsung nda bisa. Apalagi terlibat langsung. Tadi saya lihat pak bupati siaran langsung. Waduh, minta maaf ya buat saya sampaikan ini ya. Minta maaf Pak Oyang Noak dan Pak Chao Petrus, tapi dari sisi moral hati nurani saya tidak menerima itu. Bukan sebagai wakil gubernur. Tetapi sebagai anak kandung Maluku Barat Daya. Itu sangat tidak manusiawi,” pungkasnya. (dayon)