Tuntut Penyelesaian Kasus Dana BOS, Guru dan Siswa SMA Negeri 1 Buru Gelar Aksi

Porostimur.com |Namlea: Skandal dana BOS SMA Negeri 1 Buru kembali mencuat pasca sejumlah dewan guru beserta ratusan siswa SMA 1 Kabupaten Buru melakukan aksi demonstrasi ke pihak berwajib, Kamis (16/1/2020).

Dalam tuntutan yang disampaikan, para siswa dan guru meminta agar pihak terkait seperti UPTD, Kejari, dan juga Kepolisian dapat mengusut tuntas masalah yang terjadi dan telah diajukan.

Mereka meminta adanya pergantian kepala sekolah karena dinilai tidak layak memimpin sekolah yang telah menjadi barometer pendidikan di kabupaten buru itu.

Menurut penuturan seorang guru. Aksi yang dilakukan ke pihak penegak hukum adalah langkah yang diambil untuk memastikan proses pengajuan laporan terhadap kepala SMA Negeri 1 Buru terkait penyaluran dana BOS untuk fasilitas belajar mengajar bisa segera terselesaikan secara hukum oleh penegak hukum.

Pasalnya surat pelaporan yang menyeret nama kepala sekolah SMA 1 (Misyani Tomu) telah dimasukkan sejak lama ke pihak Kepolisian dan Kejari akan tetapi proses hukum tidak terlihat memiliki kejelasan dan terkesan lambat.

Bahkan beberapa upaya mendatangkan pihak UPTD pendidikan tingkat menengah atas ke sekolah juga tidak membuahkan hasil dan terkesan hilang.

Sebagian besar guru dan seluruh siswa yang berada di sekolah tersebut juga pernah melakukan aksi mogok selama satu minggu dari aktifitas belajar, namun faktanya hal itu juga tidak membuahkan hasil sesuai yang di harapkan.

Sejumlah guru menyebutkan, telah terjadi penyalahgunaan anggaran dana bos sejak tahun 2014 hingga kini.

Termasuk pelaporan pelaporan terkait penggunaan dana bos yang di nilai fiktif dan tidak transparan yang berlangsung sejak lama.

Sejumlah masalah yang terjadi dan diduga fiktif seperti pembelanjaan 20% dari dana BOS untuk pengadaan buku prlajaran yang faktanya baru di belanjakan hanya sekitar 5% persen dan tidak memiliki transparansi dalam proses penyaluran setiap tahunnya.

“Sebenarnya ada beberapa point , bukan saja buku, tapi memang yang paling menonjol itu masalah buku. Sesuai teknis penggunaan dana bos itu kan ada anggaran sebesar 20% yang harus dibelanjakan untuk pembelanjaan buku pelajaran, tapi fakta setiap tahunnya yang kita lihat hanya di belanjakan sekitar 5 % saja, nah itu jelas jadi masalah untuk proses belajar mengajar kita di sekolah, bukan saja guru, tapi siswa juga” jelas La Reni salah satu guru.

Selain buku, masih ada beberapa poin pengadaan lain yang juga dinilai fiktif seperti pengadaan infocus yang di duga tidak di belanjakan sesuai jumlah yang di tentukan.

Berbagai dugaan penyelewengan penyaluran bantuan dana BOS yang terjadi sejak 2014 ini sudah terus disuarakan, dengan dugaan penyelewengan dana senilai. Rp.1.076.158.510.

Namun tak pernah terselesaikan oleh pihak berwajib maupun pihak UPTD. Maupun Dinas pendidikan tingkat menengah atas.

Sedangkan dari pihak kejari Namlea menjelaskan, penyelesaian kasus ini masih dalam proses, yang pasti kasus akan ditangani tapi masih harus menunggu hasil dari pihak Kepolisian Resort Pulau Buru. (ima)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: