Twenty2 One, Year of Clinch?

oleh -18 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Tahun ini adalah tahun harapan. Ini terjadi setelah kita diharu-biru oleh virus. Banyak hal berubah dalam kehidupan kita.

Sejak semalam saya berusaha mengeluarkan kata-kata manis dan penuh harapan, seperti yang dilakukan banyak orang, namun tidak ada satu pun yang keluar dari otak saya.

Tidak ada. Kecuali sinisme, yang seperti biasa, tidak diminta pun akan keluar. Menurut saya, wajar kalau orang menjadi lebih sinis karena itu tanda harapan makin menipis.

2020 adalah the year of horrible. Tahun mengerikan. Annus horribilis. Ini adalah tahun dimana yang terbaik adalah tidak melakukan sesuatu. Lebih baik di rumah saja. Lebih baik tidak bergaul lewat kontak fisik. Lebih baik tiduran ketimbang kelayapan. Dan lain sebagainya.

Dan banyak hal mengerikan terjadi. Yang lebih mengerikan adalah bahwa hal-hal yang mengerikan itu sekarang menjadi normal. Berita-berita kematian datang dengan frekuensi makin meninggi. Itu normal.

Karena bombardir berita soal kematian, kita tidak lagi punya kemampuan untuk berempati. Semua kematian akhirnya menjadi statistik.

Dan kita pun tahu bahkan dalam statistik itu ada kematian yang hilang. Artinya, banyak kematian dihilangkan dari statistik sehingga jumlah rendah. Kita tidak panik. Kita tidak berempati. Kita belajar tidak peduli.

Baca Juga  Ini Alasan Masyarakat Dukung Zulfahri Abdullah Jadi Bupati Kepulaun Sula di Pilkada 2020

Dan itulah yang terjadi. Namun ada yang memanfaatkan ketidapedulian dan hilangnya empati terhadap kematian itu. Mereka adalah para penguasa. Dimana-mana di belahan dunia ini, kita melihat para penguasa memanfaatkan pandemi ini untuk memperluas kekuasaan mereka. Memperkuat cengkeraman mereka.

Negeri ini tidak terkecuali.

Baik. Mari kita omong terus terang. Kekuasaan di negeri ini semakin terkonsentrasi. Semakin terpusat. Satu demi satu oposisi tereliminasi. Semua kekuatan dari bawah, dari akar rumput terpangkas habis. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi kalau penguasa mau melakukan sesuatu.

Tidak ada perlawanan yang cukup kuat. Jika ada yang melawan, mereka melawan tanpa kekuatan. Apakah perlawanan tanpa kekuatan untuk melakukan tawar menawar? Apakah perlawanan tanpa kekuatan?

Yang kita hadapi sekarang ini adalah persatuan para elit. Mereka semakin kuat. Mereka bersatu. Mereka nyaris tanpa imbangan. Para elit yang beroposisi sekarang sudah dipeluk. Mereka mendapatkan konsesi.

Bukankah ini baik? Bukankah ini langkah jenius? Bukankah ini akan membawa stabilitas, mengurangi keriuhrendahan politik sehingga kita bisa “membangun” infrastruktur, menarik investasi, dan pada akhirnya kita semua makmur?

Sebagai orang yang belajar tentang kekuasaan (power), saya tahu persis bahwa jalannya kekuasaan tidak seperti itu. Politik itu tidak pernah berjalan satu arah. Ia seperti balon. Anda tekan sisi kiri, dia akan menggelembung di sisi kanan. Anda boleh mencari analogi lain yang Anda suka. Seperti pasar dengan hukum supply and demand, misalnya.

Baca Juga  Polres Malteng Tetapkan Tersangka Korupsi DD Pasanea, Karlutukara dan Gale-Gale

Untuk saya, ini bukan langkah jenius sama sekali. Politik adalah perimbangan. Politik yang sehat itu membutuhkan oposisi. Hanya dengan persaingan politik itu bisa menawarkan kemajuan.

Seperti pasar, politik yang diatur ala kartel — dengan beberapa pemain besar (elit) bersekutu untuk msngatur harga — dalam jangka panjang akan merugikan pasar itu sendiri. Kartel hanya akan menguntungkan mereka yang berada dalam kartel dan merugikan tidak saja produsen lain, melainkan juga konsumen.

Logika itu bisa Anda terapkan dalam politik kita saat ini. Saya kira, kurang lebih sama. Semua yang dulu menjadi lawan, sekarang dirangkul dan dipangku. Diberi jabatan sebagai imbalan untuk diam.

Politik tidak mungkin tanpa persaingan. Demikian juga pasar. Orang berkompetisi menawarkan yang terbaik. Bukan menawarkan yang terburuk. Ketika kompetisi ini dihilangkan, dan pasar dikuasai beberapa pemain kuat yang mengendalikan harga, menurunkan mutu, dan memaksimalkan keuntungan hanya untuk mereka sendiri, maka yang rugi adalah konsumen bukan?

Lalu, apakah langkah merangkul lawan ini adalah langkah jenius? Pertanyaan itu diajukan oleh seorang kawan kepada saya demi melihat reshuffle kabinet kemarin.

Baca Juga  Bazar Murah Jalasenastri Korcab IX DJA III

Saya menjawabnya dengan analogi tinju. Karena memang politik itu seperti olaharaga full body contact yang sangat keras. Tinju adalah metafor yang paling tepat untuk menggambarkannya.

Dalam tinju dikenal ada teknik clinch (mengunci dengan cara merangkul). Petinju yang kewalahan akan serangan lawan akan berusaha melakukan clinch. Ketika clinch itu terjadi, lawannya tidak bisa menyerang. Namun si petinju juga tidak dapat melakukan serangan.

Clinch adalah teknik defensif. Ia adalah tanda kekurangan dan kelemahan karena si petinju yang melakukan clinch tidak melakukan perlawanan.

Hal yang sama dalam politik. Jika ada politisi yang melakukan clinch, maka dia sebenarnya mengekspos sisi lemahnya. Dia juga mengirim sinyal kepada lawan-lawannya yang lain bahwa dia lemah.

Apakah ini yang sedang terjadi dalam politik kita? Inilah yang patut kita renungkan untuk tahun-tahun mendatang.

Salah satu clinch yang paling terkenal adalah ketika pertarungan ulang antara Mike Tyson melawan Evander Holyfield pada 28 Juni 1997. Anda mungkin tahu bagaimana pertarungan ini berakhir. Tyson menggigit telinga Holyfield saat clinch. Dia didiskualifikasi dan karir tinjunya berakhir. (*)