Ulil Abshar Abdalla: Ini Orde Tuli

oleh -11 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Intelektual Islam Ulil Abshar Abdalla emosi lantaran pemerintah tidak mendengarkan aspirasi rakyat, khususnya terkait UU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker).

Ulil membagikan pernyataan resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang turut menolak UU Cipta Kerja.

“Ini adalah sikap resmi PBNU atas UU Cipta Kerja. Salah satu poin penting: PBNU akan “membersamai” (saya suka istilah ini) pihak2 yg mencari keadilan melalui jalan konstitusional. Sikap PBNU berada di pihak mereka yg menolak UU ini. Kata Kiai Said, ini UU yg zalim,” kata Ulil di akun Twitter @ulil, Jumat (9/10/2020).

Ulil menyayangkang sikap pemerintah yang dianggapnya tidak lagi mendengarkan suara Nahdlatul Ulama (NU).

Link Banner

“Ada kecenderungan yg menjengkelkan: NU tampaknya hanya didengar pemerintah kalau menyangkut isu anti-khilafah, anti-radikalisme. Tetapi begitu bersikap dlm soal2 keadilan sosial dan lingkungan, pemerintah ndak mau dengar. Isu2 anti-khilafah mmg memperkuat kekuasaan Jokowi,” cetusnya.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Tatap Muka dengan Ketua DRPD Provinsi Maluku

Ulil mengaku memahami aksi buruh dan mahasiswa yang terjadi di sejumlah daerah. Hal itu terjadi lantaran pemerintah dan DPR sudah tuli, tidak mau mendengarkan aspirasi.

“Saya benar2 “marah” melihat ketulian pemerintah dan DPR sekarang ini. Arogansinya keterlaluan. Publik disepelekan. Kita sebagai masyarakat ndak “direken blas”. Saya paham kenapa buruh dan mahasiswa protes di mana2 kemaren,” katanya.

Ulil mengaku mendapat laporan dari teman-temannya di lapangan bahwa tindakan polisi atas para demonstran semakin represif dan keras.

Baca Juga  Amankan Nataru, Polresta Pulau Ambon Terima 400 Personel BKO dari Polda Maluku

Ia menuding pemerintah dan DPR main kucing-kucingan saat membahas RUU. Mereka menurutp diri dari dialog dengan publik. Akibatnya, begitu RUU disahkan menjadi UU, banyak orang protes.

“Ini bukan Orde Reformasi. Ini adalah Orde Tuli. Orde yg ditandai dg sikap pemerintah yg makin insuler, “self-contained”, ndak mau mendengarkan publik. Yang didengar hanya kartel oligark. Ya, saya pakai istilah ini: OLIGARKI,” pungkas Ulil.

(red/pojoksatu)