Umat Muslim Ukraina yang Terlupakan, Rayakan Ramadhan di Tengah Perang, Sudah Dua Kali Menderita

oleh -44 views
Link Banner

Porostimur.com, Kyiv – Umat muslim di Ukraina menghadapi Ramadhan yang sulit tahun ini.

Perang dengan Rusia di negara itu terus berkecamuk, namun banyak yang berencana menggunakan musim amal untuk mengumpulkan uang guna mendukung mereka yang membutuhkan.

“Kami harus menyesuaikan semuanya,” kata Niyara Nimatova, seorang Tatar Crimea dan ketua Liga Muslim Ukraina, dilansir Al Jazeera.

Pada hari pertama bulan puasa, dia berencana menyiapkan makan malam berbuka puasa dengan sekelompok keluarga pengungsi yang tinggal bersamanya di Islamic Center di Chernivtsi.

“Banyak Muslim pergi ke luar negeri dan mereka yang masih di Ukraina membutuhkan dukungan,” kata Nimatova melalui telepon dari kota Ukraina barat, tempat dia dipindahkan dari provinsi tenggara Zaporizhzhia, yang sebagiannya berada di bawah kendali Rusia.

Lima minggu setelah Rusia menginvasi Ukraina, lebih dari 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk sekitar empat juta orang yang melarikan diri ke luar negeri, menurut PBB.

Muslim Ukraina yang terlupakan

UMAT MUSLIM YANG TERLUPAKAN: Umat Muslim Ukraina Tatar-Krimea telah dua kali menderita akibat kekejaman Rusia. Kini, masih kembali terjepit dengan perang di Ukraina. Perang menimbulkan banyak korban jiwa dan kekhawatiran atas warga sipil yang tinggal di Ukraina, terutama minoritas Muslim Tatar Krimea. Tatar Krimea adalah orang-orang Muslim Turki yang telah diusir dari rumah mereka pada tahun 1944 dan 2014. Serangan Rusia ke Ukraina mencatatkan seorang anak laki-laki Muslim Tatar Krimea berusia 17 tahun menjadi korban pertama pada Kamis 24/2 lalu. Korban tinggal di desa Semihatka, dekat Genicesk, Kherson, Ukraina. Tatar Krimea adalah etnis minoritas Muslim yang berasal dari Semenanjung Krimea, di pantai utara Laut Hitam. Mereka telah diperlakukan tidak bersahabat, bahkan sampai pada pangusiran. Semenjak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, dan semenanjung itu menjadi dua Muslim Tatar Krimea kembali ke tanah air mereka. Namun kini, mereka harus kembali terjepit dengan aksi Rusia yang menyerang Ukraina. Mereka adahalh muslim yang terlupakan. Delapan tahun lalu, Federasi Rusia mencaplok Semenanjung Krimea setelah pasukan tak bertanda berbaris ke wilayah Ukraina dan mengambil alih parlemen lokal. Dalam enam bulan pertama tahun ini, Tatar Krimea yang telah tinggal di semenanjung itu setidaknya sejak abad ke-15, menyumbang sebagian besar jumlah aksi penangkapan — sekitar 138 dari 200 — yang dilakukan oleh otoritas Federasi Rusia. Angka-angka, yang dirilis oleh Pusat Sumber Daya Tatar Krimea (CTRC), sebuah organisasi non-pemerintah, hanya menceritakan sebagian kecil dari kisah lengkap ketidakadilan dan pelecehan yang telah dialami masyarakat sejak pencaplokan semenanjung itu. Dari 73 penggeledahan rumah yang tercatat, 55 dilakukan di rumah-rumah minoritas Tatar, dan dari 69 penahanan, 57 adalah dari Tatar Krimea, menurut CTRC. Saat ini, Tatar Krimea tidak dapat menikmati keamanan dan kenyamanan bahkan di tanah leluhur mereka. Namun, mereka tidak asing dengan penindasan dan pelecehan. (hidayatullah).

Umat Muslim membentuk sekitar satu persen dari populasi Ukraina, yang mayoritas beragama Kristen Ortodoks Ukraina.

Ukraina adalah rumah bagi lebih dari 20.000 warga negara Turki, serta sejumlah orang Turki, terutama Tatar Crimea.

Baca Juga  Kapolda Maluku Sebut Pengawasan Reformasi Indonesia Harus Profesional

Persiapan untuk Ramadhan tahun ini pun sulit dan emosional karena bom jatuh di negara itu dan jam malam diberlakukan, membatasi pergerakan di malam ketika keluarga berkumpul untuk berbuka puasa.

Tergusur oleh perang, banyak juga yang jauh dari rumah dan jaringan dukungan komunitas dan teman-teman.

Namun, mereka bertekad untuk memanfaatkan periode perayaan dengan sebaik-baiknya.

“Kita harus siap melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengampunan Tuhan, berdoa untuk keluarga kita, jiwa kita, negara kita, Ukraina,” kata Nimatova, yang suaminya, Muhammet Mamutov, adalah seorang imam.

Sementara itu Isa Celebi, seorang penjual gorden Turki yang telah tinggal di Ukraina sejak 2010, mengatakan Ramadhan tahun ini akan membuat banyak orang jauh dari rumah mereka.

Dia menyebut beberapa “bahkan tinggal di mobil mereka”.

“Kami selalu membuka rumah kami untuk orang-orang selama Ramadhan atau perang. Kami akan membagi roti kami,” katanya, seraya menambahkan bahwa stok beberapa makanan rendah sementara harga meningkat.

Baca Juga  Ringgo Samora Sebut Kepengurusan Asprov PSSI Malut Edi Langkara Ilegal

“Perang sangat mempengaruhi kami dan kami berjuang untuk bertahan hidup. Bisnis saya telah sepenuhnya berhenti. Tapi saya percaya kita akan melihat akhir, mungkin dalam satu tahun, mungkin dua, tetapi hari-hari baik akan kembali. Itu sebabnya saya tidak akan meninggalkan negara ini,” ujarnya.

Pada awal perang, Celebi membantu mengevakuasi 400 orang Turki, Muslim, dan Ukraina dari kota kelahirannya Vinnytsia, Ukraina barat, ke luar negeri.

Sekarang, dia membantu 1.000 anak yatim yang tinggal di dekat Biara Kenaikan Suci Chernivtsi, Banchenskyy.

Konvoi militer Rusia dari Kyiv.
Konvoi militer Rusia dari Kyiv. (GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)

Di sisi lain, pasukan Rusia memanfaatkan sebuah gereja di barat laut Ibu Kota Ukraina, Kyiv, sebagai tempat pengerahan.

Gereja tersebut juga digunakan sebagai pijakan untuk bagian dari serangan mereka di Kyiv.

Hal itu disampaikan oleh pejabat senior pemerintah AS yang enggan disebutkan namanya kepada Reuters.

“Personel militer ditempatkan di halaman gereja dan daerah pemukiman di sekitarnya,” kata pejabat itu namun tanpa menyertakan bukti.

Pejabat itu mengatakan, informasi itu didasarkan pada informasi intelijen yang tidak dirahasiakan, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (1/4/2022).

Baca Juga  Viral di TikTok, Ternyata Begini Arti dan Maksud Lagu Arjuna Beta, Simak Makna dari Lagu Karya Fynn Jamal

“Kami yakin militer Rusia menggunakan pijakan ini sebagai bagian dari serangannya di Kyiv,” kata pejabat itu.

Setelah melancarkan serangan selama lima pekan lamanya, Rusia rupanya gagal merebut satu kota besar di Ukraina, Kota Kyiv.

TERKINI Perang Rusia-Ukraina: Seorang pria bersenjata yang di lengannya ada tanda kain kuning berdiri di dekat sisa-sisa kendaraan militer Rusia di Bucha, dekat ibu kota Kyiv, Ukraina, Selasa (1/4/2022).
TERKINI Perang Rusia-Ukraina: Seorang pria bersenjata yang di lengannya ada tanda kain kuning berdiri di dekat sisa-sisa kendaraan militer Rusia di Bucha, dekat ibu kota Kyiv, Ukraina, Selasa (1/4/2022). (AP PHOTO/SERHII NUZHNENKO)

Kini, Rusia mundur dari Ukraina utara dan mengalihkan fokusnya ke tenggara, termasuk kota pelabuhan Mariupol.

Rusia mengklaim, mundurnya pasukan dari utara Ukraina bukan karena kegagalan. Sementara Ukraina mengklaim, mereka bertahan di Kota Kyiv dan berhasil memukul mundur pasukan musuh.

Alasan Rusia memundurkan pasukannya karena isyarat dari niat baik untuk pembicaraan damai. 

Sementara pembicaraan damai di Turki pada 29 Maret 2022 lalu, berakhir tanpa ada kesepakatan. 

Ukraina dan sekutunya mengatakan, pasukan Rusia telah dipaksa mundur kembali setelah mengalami kerugian besar karena logistik yang buruk dan perlawanan keras dari Ukraina.

Selama 10 hari terakhir, pasukan Ukraina telah merebut kembali kota Kyiv.

Mereka juga berhasil mematahkan pengepungan Sumy di timur dan memukul mundur pasukan Rusia yang maju ke Mykolaiv di selatan, demikian klaim Ukraina.

(red/kompas.com)

No More Posts Available.

No more pages to load.