Upah Kerja Tidak Dibayar, 3 Tahun Pembangunan satu Unit RKB SD Negeri 135 Halsel Dibiarkan Manggrak.

oleh -103 views
Link Banner

Porostimur.com | Labuha: Pembangunan satu unit Ruang Kelas Baru (RKB) Sekolah Dasar Negeri 135 (SD N 135) Halsel Desa Sawangakar, Kecamatan Kepulauan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan yang dibangun sejak November 2017 lalu, manggrak sampai sekarang.

Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) tersebut dibiarkan terbengkalai yang dikerjakan pada bulan puasa itu, terhitung selama satu bulan lebih proses pekerjaan, namun belum selesai Pasalnya, keterlambatan bahan material dan panjar upah kerja susah diberikan oleh petender pembangunan RKB tersebut.

Dari hasil pantauan porostimur.com di lokasi salah satunya pembangunan ruang kelas baru (RKB) yang dibangun sejak tahun 2017 lalu hingga saat ini belum selesai, terlihat kondisi bangunan  seperti timbunan dalam dan luar bangunan belum terisi full  dan juga pintu, jendela, serta plafon belum terpasang. Bahkan atap bagian ujung belakang belum tertutup seutuhnya.

Iswan Dasri saat ditemui mengatakan bahwa bangunan ini sudah lama, sejak tahun 2017 sampe saat ini belum dilanjutkan. “Ini sudah cukup lama, “kata Iswan Dasri selaku bass atau tukang kerja bangunan yang tak kunjung selesai itu, saat dikonfirmasi Minggu (08/07/20).

“Sekolah itu torang kerja di tahun 2017 dan torang kerjakan waktu bulan puasa, selain saya sebagai bas atau tukang kerja, ada saya punya pekerja buruh yang lain, dorang itu yang angkat bahan material lokal (pasir dan timbunan lainnya. Dan ini ada yang panjar ada yang belum panjar sama sekali,” ungkapnya

Baca Juga  Megawati akan Minta Petunjuk Allah SWT untuk Tentukan Capres 2024

Lanjutnya, pada waktu itu kontraktor sebutnya (Ridwan) sempat mau berikan upah kerja kami setengah dari total jumlah upah Rp.25.000.000. Namun saya mengatakan  bahwa, sistem kerja kami ketika dibayar harus sesuai dengan volume kerja yang sudah kita kerjakan dan sampai sekarang ini upah yang baru di berikan Rp.5.000.000, belum lagi upah buruh pengangkut semen dan material toko lainnya itu belun di bayar sekitar Rp.3.Juta lebih,” bebernya.

Iswan juga mengaku pekerjaan manggrak karena kehabisan bahan,” pada waktu itu torang kehabisan bahan material hingga pekerjaan jadi mandet, tapi pada saat kita berikan info terkait kehabisan bahan ke  kontraktor Itu (Ridwan) sudah tidak lagi merespon bahkan sampai saat ini belum ada tanggapan dari dorang (kontraktor maupun pihak terkait”, akunya

Sementara itu, Gafur Abubakar salah satu pekerja pengangkut timbunan bangunan itu, mengaku baru menerima Rp.500.000, dari total upah kerja Rp.5.000.000, dan sampai saat ini sisa upah belum lagi terbayar upah  kerjanya.

“Perjanjian  kerja itu sistem borongan, tapi beberapa waktu lalu saat torang masih kerja angkat timbunan, kontraktor datang kasih panjar hanya Rp.500.000′ dan saya bilang kalo uang Rp.500 ribu itu tidak usah saya punya juga ada “ucap lelaki puruh baya itu dengan wajah lesu.

Baca Juga  Banjir di Ahuru, Yonif 732 Banau bantu evakuasi warga

Padahal timbunan lanjutnya, “yang torang angkat itu sudah hampir penuh karena sudah 15 kubik yang torang tutup sekolah punya ruangan, namun sampai sekarang torang tidak lanjut kerja karena kehabisan ongkos dan, petugas yang tender bangunan ini juga  sampai sekarang tidak pernah datang untuk lihat sehingga torang punya upah juga belum dibayar,” terang Gafur saat ditemuai dirumahnya.

Selain itu, data yang dihimpun media ini, tunggakan kesepakatan upah kerja bangunan Rp.25.000.000, yang sudah dipanjar Rp.5.000.000, selain itu, jumlah keseluruhan dari total anggran tunggakan (Hutang) ongkos buruh serta pengangkut bahan material dan pekerja lainnya yang belum terbayar sampai saat ini totalnya Rp.33.170.000.

Menurut beberapa sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa soal bangunan sekolah sudah ditinjau langsung beberpa anggota DPRD Halsel belum lama ini bahkan Istri Bupati Halsel yang juga kepala Dinas Pendidikan juga sudah sempat turun dan menyaksikan langsung kondisi bangunan namun seolah mereka tak acuh dengan keluhan masyarakat.

“Anggota DPRD itu sudah kurang lebih 3 kali datang dan torang mintah supaya mereka bisa selesaikan bahkan Ibu kadis pendidikan juga sudah datang lihat tapi sampai saat ini kondisi sekolah masih seperti itu,” jelasnya.

Baca Juga  Wakil Menteri Agama RI Kukuhkan Pengurus MUI Maluku

Diketahui pembangunan ruang kelas baru (RKB) sejak tahun 2017 itu, bersumber dari dana alokasi umum (DAU). Dan pekerja bangunan tersebut berjumlah enam (6) orang.

Mirisnya dari total tunggakan (hutang) Rp.33.170.000 yang belum dibayar ini, para pekerja tidak tau kemana kontraktornya dan anehnya pihak terkait dalam hal ini, “Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Halsel tidak ada gerakan guna menyelesaikan bangunan yang sementara manggrak dikerjakan juga penyelesaian tunggakan (hutang) yang belum terbayar.

Terpisah Sekertaris Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Umar Iskandar Alam saat dikonfiramasi via telepon seluler belum lama ini mengatakan aggarannya Baru Cair 30%. Sisa anggaran akan dicairkan setelah pandemik Covid-19 mulai membaik.

” Anggaran cair baru 30% sisanya akan dicairkan untuk proses pembangunan lebih lanjut”, ujar Umar.

Ditanyakan soal pertanggung jawaban kontraktor, Umar mengatakan pihaknya telah melayangkan surat pemanggilan untuk dimintai keterangan progres bangunan RKB namun hinggal kini yang bersangkutan (Ridwan) belum menghadiri panggilan Dispendikbud tersebut.

” Surat untuk memintah Kontraktor sudah kami layangkan namun sudah beberapa bulan kami menunggu belum juga datang,” pungkasnya. (adhy)