Lebih jauh, Wabup mengingatkan bahwa posisi geografis Maluku Tenggara yang rentan terhadap banjir, angin kencang, gempa bumi, dan tsunami, harus diimbangi dengan kesiapsiagaan teknologi dan partisipasi komunitas.
Ia mendorong BPBD untuk menggunakan pendekatan Community-Based Disaster Risk Management (CBDRM), serta memanfaatkan teknologi satelit cuaca dalam memperkuat sistem peringatan dini.
“Kajian risiko bencana harus mencakup kerentanan sosial, kapasitas kelembagaan, dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat,” jelasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Dalam forum tersebut, Charlos juga mengajak seluruh camat, kepala desa (ohoi), dan relawan untuk aktif dalam menyampaikan kondisi di lapangan secara objektif dan akurat. Menurutnya, data yang valid akan melahirkan strategi penanganan yang efektif dan tepat sasaran.
Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan kampus, perusahaan melalui CSR, dan organisasi masyarakat sipil—untuk memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
“Kita butuh riset dan program CSR yang benar-benar berfokus pada keselamatan publik dan pengurangan risiko,” ujarnya.
Bangun Budaya Sadar Bencana
Menutup sambutannya, Charlos mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun budaya sadar bencana secara kolektif.









