Wahyu Keprabon yang Tersesat: Indonesia di Tepi Jurang Lorong Gelap Kekuasaan

oleh -325 views
Ansori

Di titik ini, pertanyaannya sederhana: siapa yang sebenarnya memegang kendali Indonesia? Pemimpin terpilih, atau bayangan oligarki yang menarik negara ke lorong gelap?

Dalam budaya Jawa, wahyu yang tersesat bisa kembali ke jalurnya jika pemimpin berani melakukan tapa ngrame—merenung di tengah keramaian, menahan nafsu, mendengarkan rakyat, dan menyelaraskan diri dengan kepentingan semesta. Ronggowarsito menulis dalam Serat Kalatidha: “Ing jaman edan, yen ora edan ora keduman. Nanging yen melu edan, ngalang-alangi batin.” Dalam zaman gila, jika tidak ikut gila, kita tidak kebagian. Tapi jika ikut gila, kita menghancurkan batin sendiri.

Situasi saat ini adalah pertarungan antara wahyu dan sengkolo, antara legitimasi moral dan manipulasi kuasa. Jika tren penurunan kepercayaan publik berlanjut, bukan mustahil Indonesia akan memasuki fase di mana rakyat tak lagi peduli pada simbol kekuasaan, dan legitimasi hanyalah topeng kosong.

Baca Juga  Simak Cara Jual Beli Tanah yang Aman agar Terhindar Masalah di Masa Mendatang

Dukungan Anies Baswedan terhadap pasangan Pramono–Doel bisa dibaca sebagai langkah simbolis melawan upaya itu—sebuah cara mengingatkan bahwa legitimasi tidak bisa dibeli, dan kekuasaan tidak boleh diserahkan hanya kepada dinasti politik. Ini bukan sekadar manuver politik; ini adalah perlawanannya terhadap lorong gelap kuasa yang membungkus Indonesia saat ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.