Wahyu Keprabon yang Tersesat: Indonesia di Tepi Jurang Lorong Gelap Kekuasaan

oleh -344 views
Ansori

Seperti Semar dalam pewayangan, yang turun bukan sebagai raja atau panglima, tapi sebagai penjaga keseimbangan, Indonesia membutuhkan figur atau momentum yang menegakkan harmoni kembali. Semar bukan memerintah dengan tangan besi, tapi menertibkan dunia, menegakkan keadilan, dan menjaga keseimbangan. Dukungan simbolis terhadap pasangan Pram–Doel adalah cerminan kebutuhan akan “Semar modern” yang menjaga negara dari kehancuran moral.

Indonesia membutuhkan keberanian baru—keberanian untuk menyebut gelap sebagai gelap, salah sebagai salah, dan curang sebagai curang. Penurunan kepuasan publik terhadap Prabowo dan Gibran adalah peringatan: rakyat mulai membuka mata, menghitung legitimasi, dan menolak topeng demokrasi yang rapuh.

Ronggowarsito menulis: “Wong kang ngaku ratu, nanging ora ngreksa rakyat, bakal ketiban bendu.”Orang yang mengaku pemimpin tetapi tidak menjaga rakyat, akan terkena malapetaka. Hari ini, bendu itu bukan sekadar kerusuhan fisik, tapi penurunan legitimasi, hilangnya kepercayaan publik, dan terkikisnya simpati generasi muda.

Baca Juga  Pejabat Hamas Sebut Serangan Israel Bertujuan Hapus Masa Depan Palestina di Gaza

Akhirnya, Indonesia harus memilih: tetap berjalan di bawah bayang-bayang raksasa, atau kembali merawat cahaya. Wahyu yang tersesat bisa kembali, tapi sengkolo tidak menunggu. Jika pemimpin terus menarik Indonesia ke lorong gelap kuasa, rakyat sendiri yang akan memadamkan cahaya legitimasi mereka. Dan rakyat akan menjadi saksi, penulis, dan penentu akhir dari takdir bangsa—apakah Indonesia kembali ke cahaya atau tenggelam dalam lorong gelap kekuasaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.