Walau Hanya Sebatas Mimpi

Karya: Ester Manalu

Malam ini aku melihatnya lagi. Tersenyum manis seraya menatapku dengan cahaya indah yang sontak keluar dari kedua bola matanya. Aku terdiam sejenak dan menikmati pemandangan yang tak sekalipun bisa aku dapatkan di dunia nyata.

Walaupun ini hanya mimpi itu bukan masalah bagiku, yang terpenting kini aku tau bagaimana rasanya mendapat senyuman darimu kak… ucapku dalam hati.

Malam ini adalah malam kesekian kalinya dimana aku bisa bertemu dengan kak arka dalam suasana dan keadaan yang jauh berbeda dari dunia nyata. Jika dalam dunia nyata dia begitu acuh dan aku sama sekali tak bisa menghampirinya berbeda dengan dunia mimpi ini dimana disini dia dan aku begitu sangat saling mencintai satu sama lain.

Jika sudah begini maka sampai kapan pun aku tak ingin terbangun dan kehilangan kak arka yang mencintaiku dalam dunia mimpi. Tapi apa dayaku, aku hanyalah seorang gadis pemimpi yang sampai kapanpun tak akan pernah mampu melawan ruang dan waktu yang begitu cepat membangunkanku dan memisahkanku dari kak arkaku. Dan alhasil lagi dan lagi aku kecewa.

Mala, kamu sudah pesan buku itu nggak” Tanya nila sahabatku
“Belum… kamu sendiri udah emang?” tanyaku padanya


“Belum juga… duh gimana dong…?” Tanya nila agak khawatir. Maklumlah soalnya dosen yang menyuruh kami memesan buku itu adalah si bigkill, dosen yang berbadan besar dan kata-katanya bisa mematikan. Dosen itu menurutku tidak terlalu menakutkan tapi sepertinya teman-temanku tidak sependapat denganku.

“Ya udah ntar siap mata kuliah mikro ekonomi kita ke toko buku terdekat ya.. kita mesannya bareng-bareng biar bisa dapet diskon hehehehe…” usul vera sahabatku yang lain. Kami dengan serentak tanpa aba-aba mengangguk tanda kami sepakat dengan ide vera tersebut.

“Ehh… liat tuh siapa yang lagi main basket” Teriak nila kemudian. Refleks aku menatap ke arah lapangan basket. karena waktu itu kami ada di lantai atas jadi pemandangannya cukup jelas. kak arka… gumamku.


“Duh… kak arka keren banget sih…” ucap vera sambil memeluk nila begitupun dengan nila. Sedangkan aku hanya terdiam dan menatap tubuh atletis kak arka yang bergerak aktif dan sesekali melompat di lapangan basket itu.

Tiba-tiba ia menatap ke arah kami. Aku kaget bukannya geer tapi tadi aku merasa bahwa ia menatapku. Tapi ya sudahlah mungkin ia tak sengaja menatap ke arah kami atau mungkin orang lain di sekitar kami yang ia lihat.

Hanya bisa menatapmu Tanpa bisa meraihmu
Namun sesekali aku Mencoba tuk memelukmu
Dalam mimpiku, dalam imajinasiku
Tak apa kan kak… jika seandainya dalam mimpi kau mencintaiku?

Sepulang kuliah seperti yang telah disepakati kami pergi ke toko buku dekat kampus. Mereka memesan buku sedangkan aku langsung menjelajahi seluruh ruangan dalam toko buku itu. Dan membaca-baca beberapa buku.

Tiba-tiba saja… prakkkkkk… Beberapa buku di tanganku dan di tangan orang yang kutabrak pun berhamburan. Aku kaget sekaligus takut kalau-kalau orang yang kutabrak itu marah dan kesal padaku. Segera kupunguti buku-bukuku dan buku orang itu.


“Maaf ya de aku nggak sengaja” ucapnya aku menatapnya dan terbelalak kaget kak arka…
Aku entah kenapa terdiam dan tak mampu berkata-kata. “Mala ada apa sih kok ada suara ber…” ucap nila tak melanjutkan ucapannya setelah melihat ada kak arka di hadapanku
“Loh kak arka…” ucap vera kegirangan seolah-olah ia meet and gret dengan artis idolanya
“iya… hai dek… Mahasisswa STIE kan?” tanyanya
“Iya kak senior kami junior kakak..” ucap vera penuh semangat. Sementara aku dan nila hanya diam dan memangut-mangut saja.

“Kenalin kak aku vera, ini teman saya nila dan yang di depan kakak itu Kumala” Ucap vera memperkenalkan kami tanpa aba-aba seolah kak arka adalah teman dekatnya.
“Ohhh… Lagi mesan buku ya..?” Tanya kak arka..


“Wah.. kok kakak bisa tau sih.. kakak hebat banget mirip paranormal tau segalanya..” ucap vera melebih-lebihkan. Aku yakin kak arka pasti mulai sedikit ilfeel dengannya sama sepertiku dan nila. vera… vera…gumamku.

Aku tanpa kata menjauh dari kak arka dan meninggalkan mereka coba mencari buku di sudut yang lain. Sampai akhirnya kak arka entah kenapa berada di belakangku.
“Mau mencari buku apa dek?” tanyanya tiba-tiba mengangetkanku


“Ngnnn… bukan apa-apa kak” Jawabku Setelah itu kami hanya saling diam dan mencari buku masing-masing. Hingga akhirnya kami selesai dan hendak pulang
“Senang bisa bertemu dengan kakak hari ini” ucap vera, kak arka tersenyum mendengarnya.


“Iya kak, vera betul. Selama ini kakak belum pernah berbicara dengan kami. Kami kira kakak itu orangnya acuh ternyata baik ya..” ucap nila ikut-ikutan.


“hahahaha kalian ada-ada saja, mungkin itu perasaan kalian saja atau memang mungkin penampilanku yang tampak begitu” tambahnya lagi. Aku hanya diam memandang dengan seksama orang yang diam-diam kukagumi itu.

“Kakak sudah punya pacar?” tanya vera tiba-tiba aku tersentak begitupun dengan nila, namun kak arka hanya tertawa
“belum punya.. kenapa?” tanyanya balik
“Masa sih… nggak mungkin kakak nggak ada cewek..” ucap vera


“Bukannya nggak ada tapi aku nggak mau pacaran dulu dek” ucap kak arka. Aku begitu kagum karena kak arka tampak begitu dewasa dan berkharisma.
“kenapa kakak nggak mau pacaran?” Tanya vera lagi yang membuat aku semakin kesal


“Mau fokus kuliah dulu” ucapnya simple. Aku tersenyum dalam hati

Dan sebelum vera bertanya lagi aku segera mengajak mereka pulang. Dan sepertinya kak arka terlihat sedikit lega karena interogasi atas dirinya telah berakhir.

Sebelum benar-benar pulang aku menyempatkan diri untuk menatap kak arka sekali lagi dan kebetulan atau apa dia juga saat itu sedang menatapku. Tak ada senyum di bibirku atau lamabaian selamat tinggal padanya bukan karena aku tak menyukai pertemuan ini tapi karena aku tau malam nanti kami akan bertemu lagi dalam suasana yang berbeda dan menyenangkan. Walau hanya sebatas mimpi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: