Oleh: M. Fazwan Wasahua, Sekretaris Jenderal DPP KPN
Di Maluku, desa bukan sekadar unit administratif. Ia adalah akar dari seluruh hidup yang tumbuh dalam tanah, ombak, dan langit. Ia menyimpan nyanyian, perjanjian tua, dan hakikat dari apa yang disebut sebagai “hidop basudara.” Tapi berapa banyak dari kita yang kini ingat jalur-jalur sagu yang dulu digores tangan ibu-ibu di tanah basah? Desa semakin dibungkam oleh suara-suara kota, oleh kata “pembangunan” yang tak selalu membangun.
Kita lupa bahwa desa di Maluku adalah pusat peradaban pertama. Di sanalah manusia belajar menanam, menyimpan, membagi. Di sanalah solidaritas dibentuk oleh alam: hujan yang datang tak bisa dimiliki satu orang. Laut yang bergelora tak bisa dilayari sendirian. Tapi kini, desa diperlakukan seperti halaman belakang dari sebuah negara yang mengejar kota. Padahal ia adalah halaman pertama dari sejarah bangsa.
Orang-orang tua dahulu menyebut ekonomi dengan bahasa yang berbeda: rejeki, keberkahan, bageang, saling. Mereka tidak mengenal “produk domestik bruto,” tapi mengenal berbagi hasil tangkap ikan, mengenal simpan sagu untuk yang belum panen, mengenal kerja kolektif tanpa upah, karena hidup memang untuk bersama. Mereka tak membaca Baqir as-Shadr, tapi hidup mereka adalah laku dari apa yang disebut “keadilan ekonomi.”









