Yamin Tawary: Perlu Ada Dialog Soal UU Ciptaker

oleh -24 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Jaringan Komunitas Soccer (Joker) Maluku Utara menggelar dialog publik Bacarita Pilwako bersama kandidat Wali Kota Ternate periode 2020-2024 M. Yamin Tawary dengan tema “Arah Masa Depan Kota Ternate di Mata Kandidat”, Sabtu (10/10) tadi malam.

Yamin dalam paparannya mengapresiasi kegiatan diskusi tersebut. Menurutnya, kegiatan serupa harus sering dilakukan karena ini merupakan proses perluasan wilayah-wilayah rasionalitas di dalam masyarakat, terutama masyarakat Kota Ternate. Dengan begitu bisa mengurangi pilihan-pilihan emosional dan pragmatisme.

“Kalau banyak tempat seperti ini, tentunya masyarakat akan semakin cerdas, sehingga sebagai calon pemimpin Kota Ternate mendatang saya ingatkan kepada semua warga, khususnya Komunitas Joker, jangan pernah menyerah,” tutur Yamin.

Pada sesi tanya jawab, Yamin yang didampingi Pengamat Politik Helmi Alhadar dibombardir dengan sejumlah pertanyaan terkait kebersihan lingkungan, masalah sampah, sektor perikanan, ekonomi, pendidikan hingga soal pengesahan Omnibus Law yang baru saja disahkan pada 5 Oktober 2020.

Ketika disentil soal disahkannya Omnibus Law dan kemudian menimbulkan aksi oleh mahasiswa dan buruh hampir di seluruh Indonesia, bahkan Kota Ternate, Yamin menyebutkan itu merupakan cara mahasiswa yang ditempuh guna memperjuangkan hak rakyat.

Baca Juga  Polri Temukan 2 Kasus Penyelewengan Dana Bansos Covid-19 di Maluku Utara

Pasalnya, ketika rakyat meminta pemerintah pusat untuk membatalkan UU tersebut, justru tidak didengar oleh pemerintah dalam hal ini Presiden dan DPR RI. Alhasil terjadilah aksi oleh mahasiswa dan para buruh.

“Saya juga dulu pernah menjadi mahasiswa dan saya juga dulu menganggap kalau kita tidak merusak, aspirasi kita tidak diperhatikan. Kalau demo biasa-biasa saja itu sepertinya tidak mau didengar, sehingga mahasiswa justru melakukan hal demikian. Kuncinya adalah belajarlah yang dikehendaki mahasiswa dan dijelaskan sungguh-sungguh tentang apa yang menjadi tujuan demonstran itu,” tuturnya.

Dia bilang, sebaiknya ada dialog yang harus dilakukan, sehingga masalah yang ada bisa tuntas. Karena jika tidak tuntas maka akan menimbulkan kecurigaan mahasiswa.

Baca Juga  Polsek KPS Bitung Gagalkan Pengiriman "Cap Tikus" ke Papua

“Jadi sebagai pemerintah juga kita harus belajar mendengar aspirasi atau apa yang jadi kehendak mereka, sehingga dengan begitu mereka akan merasa kalau mereka mau berdemo aspirasinya didengar. Karena ketika tidak didengar maka mereka akan anarkis, dan itu sesuai pengalaman-pengalaman yang sudah ada sebelumnya,” pungkasnya.

Dialog yang berdurasi 3 jam ini berlangsung tertib dengan menerapkan protokol kesehatan. Meski dalam kondisi listrik padam dan hanya menggunakan pencahayaan lilin, kegiatan tetap berjalan dengan baik dan mendapat respons baik dari para tamu undangan.

Sekadar diketahui, diskusi Joker tersebut digelar bergiliran untuk tiap kandidat. Setelah Yamin, dialog berikutnya akan ada kandidat lain yang berbicara soal masa depan Ternate. (red/tsc)