Yorrys Raweyai Bongkar Borok Airlangga Selama Jadi Ketum Golkar

oleh -49 views
Link Banner

@porostimur.com | Jakarta: Dinamika internal politik Partai Golkar memanas jelang Munas pada Desember nanti. Kader senior Golkar, Yorrys Raweyai, mengungkapkan setelah gagal mendulang suara signifikan di Pemilu 2019, partai beringin tersebut menghadapi desakan internal untuk mengevaluasi kepemimpinan Airlangga Hartarto.

“Kondisi ini patut dimaklumi, mengingat target suara dan perolehan kursi parlemen yang jauh dari harapan. Dengan perolehan 14,75% pada Pemilu 2014, turun menjadi 12,34%,” kata Yorrys dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/6).

Di saat partai-partai koalisi Indonesia Maju mengalami kenaikan suara di parlemen, lanjut dia, Partai Golkar justru mengalami penurunan. Hal ini menurutnya problem yang serius.

“PDI-P yang pada Pemilu 2014 lalu meraih 18,95% suara, naik menjadi 19,38%. PKB yang mendulang 9,04% pada Pemilu sebelumnya, meningkat menjadi 9,72%. Partai Nasdem yang tergolong baru di kancah politik nasional, mengalami peningkatan signifikan dari 6,72%, menjadi 9,07%,” urai dia.

Link Banner

“Dengan penambahan kursi menjadi 575, dipastikan jumlah kursi partai-partai tersebut meningkat signifikan,” imbuhnya.

Baca Juga  Polres Kepulauan Aru Bagikan Sembako Kepada Anak Panti Asuhan

Evaluasi Kepemimpinan

Fakta-fakta tersebut, kata Yorrys, yang seharusnya membuat Airlangga mengevaluasi diri posisinya sebagai ketum. Penurunan suara dari serangkaian Pemilu pascareformasi, kata dia, seharusnya menjadi catatan penting untuk melangkah ke depan.

” ​Ironisnya , suara-suara kritis yang hendak mengevaluasi suara Golkar suara rakyat itu, masih saja dipandang sebelah mata. Tidak hanya itu, dinamika tersebut acapkali dinilai sebagai bentuk pemberontakan dan pembangkangan, ataupun upaya degradasi kepemimpinan yang sedang menjabat saat ini,” jelas dia.

​Oleh karena itu, dalam pandangan Yorrys, desakan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar bukan semata soal siapa yang akan menjabat ketua umum. Namun, lebih pada sejauh mana respons Partai Golkar terhadap situasi dan kondisi saat ini.

Sayangnya, kata dia, ada ​sikap resisten terhadap segala bentuk kriti k terhadap Golkar. Menurutnya, hal itu membuktikan Golkar belum bisa mengambil jarak dengan karakter masa lalunya.

Baca Juga  Buru Selatan Butuh Pemimpin yang Kerja Dengan Hati

“Pada gilirannya, oligarki kekuasaan masih menggurita , sentralisasi kekuasaan masih sangat kasat mata, berbagai kebijakan strategis masih diputuskan secara pihak, yang kesemuanya menyimpulkan bahwa kepemimpinan Airlangga Hartarto saat ini tidak berbeda dengan pendahulunya,” jelas dia.

Yorrys berpendapat, kepemimpinan Airlangga saat ini justru disibukkan dengan agenda-agenda eksternal yang tidak memiliki efek dulang suara. “Nama besar Airlangga Hartarto justru lebih “mentereng” dengan jabatan “eksekutif”-nya ketimbang sebagai Ketua Umum sebuah partai politik,” ucap Yorrys.

Ia mengungkapkan, kesibukan Airlangga sebagai Menteri Perindustrian telah membuat kinerja-kinerja kepartaian hanya dianggap sambilan.

Menebar Ancaman

Untuk itu, kata Yorrys, saat ini muncul desakan dari internal yang menginginkan Airlangga diganti saat Munas mendatang.

” ​Kiranya dinamika itulah yang sedang terjadi di internal Partai Golkar saat ini, saat sejumlah pimpinan DPD dari berbagai wilayah di Indonesia menyuarakan dukungan pada Bambang Soesatyo selaku Calon Ketua Umum dalam Munas Partai Golkar mendatang,” bebernya.

Baca Juga  SIEJ: Maluku Utara Butuh Protokol Penanganan Peliputan Covid-19

“Dukungan tersebut tentu saja tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan dilatarbelakangi oleh harapan tentang masa depan partai yang lebih baik dan gumpalan kekecewaan terhadap pola kepemimpinan Partai Golkar saat ini,” sambung Yorrys.

​Sejumlah dukungan tersebut, lanjut dia, tidak pantas direspons dengan cibiran, kecurigaan, hingga ancaman. Yorrys menganggap, mereka yang menyerukan perubahan adalah bagian dari Kader Partai Golkar yang memiliki andil atas kebesaran dan bertahannya Partai Golkar hingga saat ini.

“Memandang dukungan tersebut sebagai tindakan yang tidak santun dan elegan, justru membuka ‘borok’ kepemimpinan Partai Golkar itu sendiri yang sudah terlanjur “gagal” di mata publik,” tutup Yorrys. (red)