Oleh: Dino Umahuk, Wakil Sekretaris Partai Golkar Maluku, Wakil Ketua PDK Kosgoro 1957 Maluku
Ada usia yang dirayakan dengan pesta, ada pula usia yang seharusnya dirayakan dengan keberanian bercermin. Enam puluh dua tahun Partai Golkar adalah momentum untuk menengok perjalanan sekaligus menguji relevansinya di tengah perubahan zaman.
Di Maluku, perenungan itu memiliki makna tersendiri. Di negeri yang lautnya memisahkan sekaligus menghubungkan, politik tidak cukup diukur dari jumlah kursi, gemuruh kemenangan, atau kedekatan dengan pusat kekuasaan. Ia harus ditimbang dari seberapa jauh harapan rakyat menjelma kenyataan.
Golkar telah melewati berbagai perubahan politik Indonesia. Daya tahannya menunjukkan kemampuan beradaptasi. Namun, umur panjang tidak otomatis menjamin relevansi. Partai bisa bertahan dalam peta kekuasaan, tetapi kehilangan makna jika gagal membaca kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pertanyaan terpenting pada usia ke-62 bukanlah seberapa besar Golkar pernah berdiri, melainkan seberapa berarti kehadirannya bagi masa depan Maluku.
Melampaui Seremonial
Maluku bukan sekadar gugusan pulau yang indah di peta. Ia adalah ruang hidup dengan persoalan nyata: mahalnya distribusi barang, terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan layanan dasar, dan belum optimalnya potensi laut sebagai sumber kesejahteraan.









