Hanya Rezim Komunis yang Anti Politik Identitas

oleh -6 Dilihat

Dalam tradisi demokrasi, identitas menjadi sesuatu yang penting, karena dengan identitas itu setiap orang bisa menunjukkan jati dirinya, pikirannya, serta apa yang akan diperjuangkan untuk meraih masa depan yang dianggap baik.

Oleh: Isa Ansori, Kolumnis

Tahukah Anda apa itu identitas? Identitas berasal dari kata identity yang artinya memiliki tanda, ciri atau jati diri yang melekat pada suatu individu, kelompok, atau sesuatu yang membedakannya.

Dalam perspektif psikologi, identitas adalah suatu perasaan tentang menjadi seseorang yang sama. Perasaan tersebut melibatkan sensasi fisik dari tubuh, body image, tujuan, nilai-nilai, dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang, suatu perasaan yang berhubungan dengan rasa keunikan dan kemandirian (Erikson dalam Corsini).

Katherine Woodward dalam bukunya Identity and Difference menjelaskan bahwa identitas adalah gagasan yang diberikan perihal konsep individu, sehingga asal-usul seseorang dapat diketahui. Identitas berasal dari banyak aspek seperti kebangsaan, etnis, ras, strata sosial, jenis kelamin, dan gender.

Pembahasan Stuart Hall pada buku yang sama dijelaskan bahwa identitas bersifat tidak tetap dan selalu berubah. Identitas tidak dapat dilepaskan dari representasi, karena proses representasilah yang memiliki pengaruh tidak langsung dalam pembentukan identitas.

Baca Juga  Sassuolo Tahan AC Milan 1-1, Jay Idzes Absen karena Cedera

Menurut Hall, identitas terbagi menjadi dua yaitu, “being” dan “becoming“. “Being” atau disebut juga dengan “self-subjectivity” adalah identitas yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri.

“Becoming” adalah refleksi identitasnya pada situasi sosial sekitarnya. Idenfifikasi ini akan mengarah pada justifikasi identitas pada lingkungan sosialnya, yang disebut interpelasi.

Identitas menunjukkan bahwa setiap orang punya kemerdekaan atas dirinya, sehingga setiap orang bisa saling belajar, saling melengkapi karena atas kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Ada pengajuan tentang kemerdekaan pribadi.

Pengingkaran terhadap kemerdekaan pribadi dan perampasan kemerdekaan individu sebagai sebuah identitas akan menyebabkan terjadinya kehilangan kepemilikan dan keragaman, sehingga semua akan menjadi seragam, tidak boleh berbeda. Tentu ini mengingatkan kita pada rezim komunis di beberapa negara.

Baca Juga  Hindari Kegaduhan Nasional, Gibran Disarankan Ambil Langkah Mundur

Korea Utara, China, dan Rusia adalah negara-negara yang menganut paham itu. Di dalam pelaksanaannya, ketiga negara tersebut tidak mengakui adanya kepemilikan pribadi sebagai sebuah identitas, semua milik negara, tidak boleh ada keragaman di dalamnya. Akibatnya setiap perbedaan dan keragaman akan dianggap sebagai sebuah ancaman, karena keragaman itu menjadikan adanya identitas lain yang dianggap mengancam.

No More Posts Available.

No more pages to load.