Aktivis Australia Tuduh Pasukan Israel Lakukan Kekerasan dan Pelecehan saat Misi Gaza

oleh -3 Dilihat
Menurut Lamont, insiden itu terjadi setelah armada mereka dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional sekitar 18 Mei 2026. Ia kemudian ditahan di atas kapal yang disebutnya sebagai “kapal penjara”.

Ratusan Aktivis Disebut Alami Kekerasan

Lamont menyebut sekitar 180 aktivis yang ditahan di satu kapal mengalami berbagai bentuk kekerasan. Beberapa di antaranya dilaporkan mengalami patah tulang, sengatan listrik, hingga disuntik zat yang tidak diketahui.

Meski demikian, ia menegaskan para aktivis tetap bertahan secara mental.

“Mereka mungkin mematahkan tulang kami, tetapi tidak menghancurkan semangat kami,” katanya.

Aktivis lain, Gemma O’Toole, juga mengaku mengalami kekerasan fisik selama penahanan. Mahasiswi berusia 23 tahun itu mengaku mengalami trauma setelah kembali ke Australia.

“Saya lega bisa pulang, tetapi saya sangat sedih dan trauma. Butuh waktu untuk memproses semua yang terjadi,” ujarnya.

Israel Bantah Tuduhan

Di sisi lain, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) membantah seluruh tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, IDF menegaskan bahwa prosedur operasi mereka mengharuskan perlakuan yang hormat terhadap para aktivis.

Baca Juga  DKP Maluku Survei Delapan Aspek di Kepulauan Lucipara, Perkuat Konservasi Laut Berbasis Sains

“Tidak ada insiden penyimpangan dari prosedur yang diketahui. Setiap pengaduan konkret akan diperiksa secara menyeluruh,” demikian pernyataan resmi IDF.

Sementara itu, perhatian publik juga tertuju pada pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, yang sebelumnya menuai kontroversi setelah beredarnya video perlakuan terhadap aktivis yang ditahan.

No More Posts Available.

No more pages to load.