DiCaprio tentu bukan orang yang setiap hari menghirup asap kebakaran hutan Indonesia. Ia juga tidak tinggal di Kalimantan. Namun, jarak geografis tidak membuat persoalan itu luput dari perhatiannya. Dari kejauhan, ia menggunakan ketenaran dan jangkauan media sosialnya untuk membawa kembali persoalan tersebut ke hadapan publik.
Namun, di negeri sendiri, ceritanya menjadi berbeda. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyisakan persoalan asap, perhatian publik tidak hanya tertuju pada luas hutan yang terbakar atau warga yang harus menghirup udara tercemar. Muncul pula pertanyaan tentang suara para pesohor yang memiliki jutaan pengikut di media sosial.
Pertanyaan itu antara lain datang dari Mustapha Shabri, seorang warganet Malaysia. Ia mempertanyakan apa gunanya puluhan juta pengikut yang dimiliki figur seperti Raffi Ahmad, Ria Ricis, dan Atta Halilintar jika mereka tidak ikut menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan. Pertanyaan itu kemudian menyebar dan memancing perdebatan. Bukan semata-mata karena nama-nama besar yang disebut, melainkan karena ada kegelisahan yang lebih luas di baliknya: ketika persoalan menyangkut kehidupan banyak orang, ke mana perginya pengaruh yang selama ini tampak begitu besar?










