“Demokrasi bukan hanya tentang bagaimana pemerintah menjalankan pemerintahan, tetapi juga bagaimana masyarakat ikut terlibat dalam menentukan dan menjaga kualitas demokrasi,” menjadi salah satu penekanan dalam diskusi tersebut.
Di sisi lain, perkembangan ruang digital menghadirkan persoalan disinformasi dan berita hoaks. Arus informasi yang begitu cepat membuat masyarakat tidak hanya mudah memperoleh informasi, tetapi juga mudah menyebarkannya tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi.
Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang intens berinteraksi dengan ruang digital. Karena itu, literasi digital dinilai penting agar masyarakat mampu membedakan informasi yang benar, keliru, maupun informasi yang sengaja diproduksi untuk memengaruhi opini publik.
Setiap informasi politik yang beredar di media sosial perlu diperiksa kembali sumber dan konteksnya sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
Kemampuan melakukan verifikasi, membandingkan informasi dari berbagai sumber kredibel, serta memahami konteks menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ruang publik digital.
Bagi mahasiswa FISIP Universitas Pattimura, diskusi ini sekaligus menjadi momentum untuk memahami bahwa ruang digital bukan sekadar tempat memperoleh informasi, tetapi juga arena baru bagi partisipasi politik, penyampaian kritik, dan pengawasan terhadap pemerintahan.









