Porostimur.com, Riyadh – Ambisi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menjadikan kerajaannya sebagai pusat investasi, pariwisata, dan ajang olahraga kelas dunia menghadapi tantangan serius. Serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dari Yaman disebut kembali menyeret Riyadh ke dalam konflik regional yang selama bertahun-tahun berusaha diredam.
Setelah lebih dari satu dekade berupaya mengendalikan konflik di perbatasan selatan melalui operasi militer dan diplomasi, Arab Saudi kini menghadapi persoalan berlapis. Ketegangan dengan Uni Emirat Arab (UEA), lemahnya koordinasi antarfaksi bersenjata di Yaman, serta ketidakpastian dukungan Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang dinilai memperumit posisi Riyadh.
Laporan CNN menyoroti enam kesalahan perhitungan strategis yang dinilai berkontribusi terhadap memburuknya situasi keamanan Arab Saudi. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut operasi militer, tetapi juga hubungan regional, kesiapan pertahanan, dan ambisi transformasi ekonomi kerajaan.
Serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak berpotensi mengganggu ekspor, sementara sejumlah agenda internasional yang dirancang untuk memperkuat citra Arab Saudi sebagai pusat kegiatan global turut menghadapi tekanan keamanan.










