Investigasi Reuters yang diterbitkan pada 15 Oktober melaporkan sedikitnya 135 serangan drone dan rudal yang dilancarkan Iran beserta kelompok-kelompok sekutunya terhadap 84 lokasi infrastruktur vital di negara-negara Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Sejumlah sasaran yang dilaporkan mencakup fasilitas minyak dan gas, termasuk kompleks gas alam cair Ras Laffan di Qatar serta infrastruktur pipa minyak di Arab Saudi.
Dampak konflik juga terasa pada pasar energi global. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia, menghadapi tekanan akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Laporan Associated Press pada 13 Oktober turut menyoroti risiko terhadap pelayaran komersial di sekitar selat tersebut, termasuk serangan terhadap kapal dan upaya Iran membatasi pergerakan maritim.
Jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran benar-benar terjadi, ancaman pembalasan IRGC berpotensi memperluas sasaran konflik dan meningkatkan risiko terhadap fasilitas energi di kawasan. Namun, hingga pernyataan tersebut disampaikan, belum ada target spesifik maupun jadwal aksi balasan yang diumumkan oleh pihak Iran.
Menhan Baru Iran Ancam AS dan Sekutunya
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Pertahanan Iran yang baru ditunjuk, Mehrdad Akhlaghi, juga memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melanjutkan kampanye militernya terhadap Republik Islam Iran.









