Oleh: Dino Umahuk, Penulis, jurnalis senior dan sastrawan nasoinal
Politik selalu punya meja makan, dan di meja itu kita sering menyaksikan sesuatu yang di luar meja terasa mustahil. Orang-orang yang kemarin berhadap-hadapan dapat duduk bersebelahan, mereka yang dahulu saling menyanggah bisa bertukar senyum, sementara kritik yang pernah dilontarkan dengan suara lantang perlahan berubah menjadi percakapan yang lebih lunak di antara kursi-kursi kekuasaan. Karena itu, ketika Rocky Gerung kini berada dalam lingkaran kekuasaan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, sementara Anwar Usman—yang lebih akrab disebut publik sebagai Paman Usman—juga berada dalam ruang kekuasaan yang sama, saya justru tertarik melihatnya bukan sebagai sekadar peristiwa politik, melainkan sebagai sebuah paradoks tentang gagasan, kekuasaan dan manusia.
Rocky selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengganggu kenyamanan kekuasaan. Ia berbicara dengan bahasa filsafat, tetapi yang disentuhnya sering kali adalah urat paling sensitif dari politik: kekuasaan, kepentingan dan kebebasan berpikir. Ia menjadikan kritik bukan sekadar pekerjaan berbicara, melainkan semacam cara untuk menjaga agar akal sehat tidak kehilangan tempat di tengah hiruk-pikuk politik. Karena itu, ketika seorang Rocky akhirnya masuk ke ruang kekuasaan, pertanyaan yang muncul bukan apakah ia berhak berada di sana, sebab secara politik dan konstitusional tentu saja ia memiliki hak yang sama dengan siapa pun. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah ia masih mampu mempertahankan jarak kritisnya ketika jarak itu mulai dipersempit oleh sebuah kursi yang empuk dan sebuah meja yang penuh hidangan.








