Menjilat Lewat Pintu Nalar

oleh -63 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada jenis penjilat kekuasaan yang tidak lagi datang dengan pujian. Ia tidak berdiri di depan penguasa sambil menyanjung, tidak pula sibuk mengatakan bahwa semua yang dilakukan pemimpin selalu benar. Zaman agaknya telah membuat penjilatan menjadi lebih canggih. Ia datang dengan bahasa yang lebih terhormat: nalar, sistem, kaidah, prosedur, bahkan objektivitas. Ia tidak tampak sedang menjilat. Justru karena itulah ia menjadi menarik untuk diperhatikan.

Ia bisa saja mengatakan, “Jangan melihat figurnya, lihat sistemnya.” Kalimat itu terdengar sehat. Bahkan masuk akal. Bukankah negara memang harus dibangun di atas sistem, bukan bergantung pada watak seorang pemimpin? Tetapi persoalan muncul ketika kalimat tersebut dipakai untuk menghindari pertanyaan yang sebenarnya: bagaimana jika orang yang menjalankan sistem itu memiliki persoalan moral yang serius?

Baca Juga  Tiga Pekan Hilang Melaut, Nelayan Morotai Ditemukan Kapal China

Di situlah nalar kadang berubah menjadi pintu masuk menuju pembenaran.

Moral seorang pemimpin yang buruk dianggap tidak terlalu penting selama sistem masih berjalan. Keteladanan pribadi diletakkan di luar pembicaraan karena yang dinilai hanyalah institusi. Seolah-olah sistem adalah mesin yang dapat bergerak sendiri, tanpa manusia, tanpa karakter, tanpa keputusan-keputusan yang dibuat oleh mereka yang memegang kendali.

No More Posts Available.

No more pages to load.