Perlindungan Anak di Tual Tak Cukup dengan Kebijakan, Suara Anak Harus Didengar

oleh -155 Dilihat
Perlindungan anak di Kota Tual tidak cukup hanya dibebankan kepada pemerintah atau keluarga. Di tengah perubahan sosial dan derasnya ancaman di ruang digital, anak membutuhkan lingkungan yang benar-benar aman, mulai dari rumah, sekolah, masyarakat, institusi agama hingga ruang tempat mereka berinteraksi.

Keluarga, sekolah, teman sebaya, lingkungan sosial, masyarakat hingga ruang digital dapat menjadi faktor yang melindungi anak, tetapi pada saat yang sama juga dapat berubah menjadi sumber risiko.

Lingkungan yang aman, suportif, bebas kekerasan dan diskriminasi, serta menghargai suara anak akan membantu mereka merasa diterima dan memiliki ruang untuk berkembang.

Karena itu, perlindungan anak tidak boleh dimaknai sebatas mencegah kekerasan atau memenuhi kebutuhan fisik.

Ada dimensi lain yang tak kalah penting: kesejahteraan psikologis anak.

Perspektif tersebut kemudian dipertegas pegiat literasi dan pemerhati keluarga, Nihma, S.Sos., M.H., yang menempatkan keluarga sebagai ruang pertama dalam membangun rasa aman bagi seorang anak.

“Anak tidak hanya membutuhkan rumah untuk tinggal, tetapi keluarga untuk merasa diterima, didengar, dan dilindungi,” ujarnya.

Baca Juga  Polda Maluku Kerahkan 120 Personel Razia Empat Tempat Hiburan Malam di Ambon

Pernyataan itu membawa persoalan perlindungan anak kembali ke ruang paling dekat dengan kehidupan mereka: rumah.

Sebab, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dapat kehilangan maknanya ketika relasi di dalam keluarga dibangun dengan kekerasan, ketakutan atau pengabaian.

Dari Suara Anak hingga Tanggung Jawab Institusi

Yang menarik, dialog tersebut tidak hanya memberi ruang kepada orang dewasa untuk berbicara tentang anak.

No More Posts Available.

No more pages to load.