Apabila Prabowo terlampau bergantung pada dukungan Jokowi dan mengakomodasi Gibran secara berlebihan, ia berpotensi kehilangan daya tarik sebagai pemimpin yang independen dan tegas.
Di tengah situasi ini, PDIP dengan cerdas memainkan peran sebagai sekutu strategis. Dukungan kepada Prabowo, meski bersifat simbolis, memberikan kesan bahwa PDIP siap bersimbiosis mutualisme dengan Prabowo untuk melindungi kepentingan partai sekaligus Megawati.
Namun, dukungan ini juga dapat menjadi pisau bermata dua yang menyulitkan Prabowo, karena ia harus terus menjaga keseimbangan antara loyalitas kepada Jokowi, hubungan baik dengan PDIP, dan mandat rakyat yang menginginkan perubahan.
Pada akhirnya, pertanyaan besar yang muncul adalah: sanggupkah Prabowo memikul beban Jokowi? Mampukah ia menjadi pemimpin yang mengatasi beban warisan masa lalu dan bergerak maju demi kepentingan rakyat?
Ataukah ia justru akan terjebak dalam pusaran konflik kepentingan yang semakin memperlemah posisinya? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan politik Indonesia, termasuk posisi Jokowi, Gibran, dan PDIP dalam peta kekuasaan yang terus berubah.
Surabaya, 16 Januari 2025











