“Saat ditanya apakah obat dibeli di luar, pasien menjawab sebagian besar masih dilayani di apotek RSUD. Ini berarti pelayanan masih berjalan,” jelasnya.
Namun demikian, ia tidak menampik adanya kekurangan obat yang diakui oleh pihak manajemen rumah sakit.
“Memang ada kekurangan obat, dan itu diakui direktur RSUD. Kendalanya ada pada keterbatasan anggaran, baik dari pemerintah daerah maupun RSUD sendiri,” ungkapnya.
Anggaran Jadi Kendala Utama
James menjelaskan, pada tahun sebelumnya pemerintah daerah masih memiliki anggaran mandatory sekitar Rp4 miliar untuk pengadaan obat di RSUD Jailolo. Namun, pada tahun ini anggaran tersebut tidak lagi tersedia.
“Tahun lalu masih ada anggaran mandatory kurang lebih Rp4 miliar untuk pengadaan obat. Tahun ini tidak ada lagi, sehingga ini menjadi kendala yang harus kita hadapi bersama,” pungkasnya.
RSUD Janji Tingkatkan Pelayanan
Sementara itu, Direktur RSUD Jailolo, dr. Novimaryana Drakel, menyampaikan bahwa berbagai masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke depan.
“Mungkin ini menjadi motivasi buat kami supaya kami lebih memperbaiki pelayanan di rumah sakit yang lebih baik lagi,” tandasnya.
Sidak ini diharapkan menjadi langkah awal perbaikan, khususnya dalam memastikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat Halmahera Barat. (Asirun Salim)










