“Tidak ada perajin muda sama sekali, mereka tentunya lebih tertarik ke pekerjaan yang lebih menjanjikan,” ungkap Siti, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, Suram bukan sekadar benda kerajinan. Setiap bentuk dan corak yang dihasilkan merupakan bagian dari keterampilan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, minimnya minat anak muda membuat mata rantai pewarisan keterampilan tersebut terputus.
“Saya membuat Suram ini sejak tahun 1967 saat masih duduk di bangku sekolah. Suram yang dihasilkan berbagai bentuk, corak yang digambar pun beragam, namun kini nihil minat dari generasi muda,” tuturnya.
Proses membuat Suram memang tidak sederhana. Tanah liat menjadi bahan utama yang terlebih dahulu dicampur dengan sedikit pasir. Campuran tersebut kemudian diaduk hingga mencapai tingkat kekentalan tertentu sebelum dibentuk secara manual.
Setelah bentuk dasar selesai, perajin membuat berbagai corak menggunakan bat mas atau batu merah yang diperoleh dari Desa Fadol di seberang wilayah Tam.
Tahap berikutnya adalah pengasapan. Gerabah diasapi hingga kering secara merata dengan memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar.
Lama proses pengasapan bergantung pada kualitas kayu yang digunakan. Jika kayunya bagus, proses tersebut bisa memakan waktu sekitar tiga hingga empat hari.









