Transformasi Pelindo, Produktivitas Pelabuhan Ambon Meningkat

oleh -6 Dilihat

Proses perubahan ini, lanjut Nengah Suryana, dimulai dari para manajer di level menengah, terutama para perencana dan kontroler karena kecepatan dan ketepa tan seluruh proses bongkar muat ada di tangan mereka. “Selain itu, dengan posisi middle management, mereka bisa menjadi pembawa perubahan (agent of change). Mereka bisa menjadi role model bagi karyawan yang lain.”

Proses bongkar muat di pelabuhan sama pentingnya dengan penataan lapangan peti kemas. Setelah proses transformasi, Pelabuhan Ambon sudah menerapkan Windows System untuk mengatur jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal agar tidak terjadi penumpukan kapal di pelabuhan. “Kecepatan bongkar muat di kapal harus selaras dengan yang di lapangan peti kemas agar tidak terjadi penumpukan (bottle neck),” tambahnya.

Baca Juga  Soal Dugaan Korupsi Bansos Rp8,1 Miliar di Maluku Tengah, Jaksa Tunggu Hasil Audit

Hasil proses transformasi ini adalah percepatan waktu sandar (port stay) dan kenaikan produktivitas. Waktu sandar yang semula tiga hari, sekarang bisa dipercepat menjadi satu hari. Produktivitas juga meningkat cukup signifikan. Proses bongkar muat di pelabuhan yang semula hanya 8-10 TEUs per crane per jam menjadi 20 TEUs. “Karena kita sekarang punya dua, jadi kapasitasnya naik jadi 35-40 per crane per jam.”

Peningkatan kinerja ini dirasakan perusahaan pelayaran Meratus Line. Kepala Cabang Meratus Line Ambon, Samuel Jonathan mengatakan aktivitas bongkar muat sekarang sudah bisa 800-an boks sekali sandar dari sebelumnya hanya 400-500 boks. “Kapal-kapal juga nggak perlu antre karena sudah ada jadwalnya. Kita juga harus ikut irama Pelindo karena kalau kita lambat, kita sendiri yang rugi,” kata Samuel.