Menurut kesaksiannya, sebuah pos terdepan pemukim didirikan di kawasan tersebut sejak Januari. Setelah itu, warga disebut menghadapi serangkaian tindakan intimidasi dan gangguan terhadap kehidupan sehari-hari.
Gerbang pertanian dan pintu rumah, kata Hassan, dirusak. Akses jalan juga diblokir, sementara aliran listrik dan air serta pasokan makanan disebut turut terganggu.
“Situasi ini sudah berlangsung selama dua minggu, dan mereka masih belum menyelesaikannya,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Hassan, membuat anak-anaknya kelelahan karena harus terus berada di dalam rumah.
“Anak-anak saya kelelahan; mereka terkurung di dalam rumah,” ujarnya.
Kesaksian tersebut menggambarkan tekanan yang dihadapi warga sipil ketika pembatasan wilayah dan kekerasan berlangsung bersamaan.
Ketegangan Tepi Barat Meningkat
Tepi Barat merupakan wilayah yang diduduki Israel sejak Perang Enam Hari pada 1967. Wilayah tersebut kini dihuni sekitar tiga juta warga Palestina dan sekitar 500 ribu pemukim Israel yang tersebar di berbagai permukiman.
Permukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina dinilai ilegal berdasarkan hukum internasional oleh mayoritas komunitas internasional.
Pada awal 2026, Israel juga mengalokasikan sekitar 1,3 miliar shekel atau sekitar US$431 juta untuk pembangunan 34 permukiman baru di Tepi Barat. Kebijakan tersebut menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejumlah negara Arab, serta negara-negara anggota Uni Eropa.









