Porostimur.com, Ambon – Memasuki usia ke-91 tahun, Gereja Protestan Maluku (GPM) tidak cukup hanya merayakan perjalanan panjang sejarahnya. Momentum tersebut harus menjadi titik tolak untuk memastikan kasih Kristus benar-benar hadir dan dirasakan di tengah kehidupan umat dan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena, dalam momentum peringatan HUT ke-91 GPM yang mengusung tema “Bersyukur, Tekunlah Bermisi dan Takut Akan Tuhan.”
Bagi Wattimena, tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata untuk sebuah perayaan. Di dalamnya terdapat panggilan agar gereja terus bergerak, melayani dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan kehidupan masyarakat.
“Bersyukur” menjadi ajakan untuk melihat kembali perjalanan panjang GPM dan segala bentuk penyertaan Tuhan. Namun, rasa syukur tersebut harus diikuti tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi umat dan masyarakat.
Sementara “tekunlah bermisi” merupakan panggilan agar gereja tidak berhenti pada aktivitas di dalam gedung gereja, tetapi hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Misi itu dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat kecil, perhatian terhadap generasi muda, penguatan keluarga, pendidikan, pelestarian lingkungan, solidaritas sosial hingga upaya menjaga perdamaian.
Sedangkan “takut akan Tuhan” menjadi fondasi agar seluruh pelayanan dijalankan dengan iman, ketulusan, integritas dan tanggung jawab.
91 Tahun GPM, Saatnya Kasih Kristus Dibuktikan
Perjalanan 91 tahun GPM tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang masyarakat Maluku. Gereja bukan hanya memiliki peran dalam kehidupan spiritual umat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam dinamika sosial masyarakat.
Karena itu, memasuki usia 91 tahun, GPM menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan ekonomi, kemiskinan, pendidikan, lingkungan, ketahanan keluarga hingga tantangan generasi muda membutuhkan kehadiran seluruh elemen masyarakat.
Dalam situasi tersebut, gereja dituntut semakin relevan dalam menerjemahkan nilai-nilai kekristenan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Kasih Kristus, kata Wattimena, tidak cukup hanya disampaikan dari mimbar. Kasih itu harus hadir dalam tindakan nyata.
Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, gereja diharapkan hadir. Ketika generasi muda menghadapi persoalan karakter dan tantangan zaman, gereja diharapkan memberikan pendampingan.
Dan ketika masyarakat membutuhkan perdamaian, gereja harus tampil sebagai kekuatan yang ikut merawat persaudaraan.
Di situlah makna “tekunlah bermisi” menemukan bentuk nyatanya.
HUT ke-91 GPM sekaligus menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Sebab, panjangnya usia sebuah gereja tidak semata-mata diukur dari sejarah yang telah dilewati, tetapi juga dari seberapa besar kehadirannya memberikan dampak bagi umat dan masyarakat.
Khusus di Kota Ambon, peran tersebut semakin strategis. Kehidupan masyarakat Ambon dibangun di atas keberagaman dan semangat hidup orang basudara.
GPM memiliki ruang besar untuk terus memperkuat toleransi, menjaga kerukunan dan membangun jembatan persaudaraan di tengah masyarakat.
Pemerintah dan Gereja Harus Bergerak Bersama
Wattimena juga mendorong penguatan sinergi antara pemerintah dan gereja dalam membangun daerah.
Menurutnya, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Pembangunan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga-lembaga keagamaan.
Gereja memiliki kekuatan besar dalam pembinaan karakter, penguatan keluarga, pendidikan moral dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, kolaborasi pemerintah dan gereja diharapkan tidak berhenti pada hubungan kelembagaan, tetapi diterjemahkan dalam program dan gerakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pembangunan, lanjutnya, juga tidak semata berbicara mengenai jalan, gedung dan infrastruktur.
Pembangunan pada akhirnya berbicara tentang manusia, karakter, persaudaraan dan kualitas kehidupan masyarakat.
Tema HUT ke-91 GPM pun membawa pesan yang kuat: iman harus bergerak menjadi tindakan.
Bersyukur berarti menyadari kasih Tuhan.
Tekun bermisi berarti tidak pernah lelah melayani.
Takut akan Tuhan berarti menjadikan nilai iman sebagai dasar dalam setiap pengabdian.
Ketiganya menjadi satu kesatuan yang diharapkan membawa GPM semakin kuat menjalankan panggilannya di tengah umat dan masyarakat.
Wali Kota Ambon mengajak seluruh umat GPM untuk terus menjaga kebersamaan, memperkuat pelayanan dan menghadirkan damai serta pengharapan bagi sesama.
Sebab, memasuki usia 91 tahun bukan sekadar tentang merayakan perjalanan yang telah dilewati.
Lebih dari itu, usia 91 tahun adalah tentang bagaimana GPM menatap masa depan dan memastikan kasih Kristus benar-benar hadir—bukan hanya di mimbar, tetapi di tengah kehidupan umat dan masyarakat.
(Josian Kakisina)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com



