Porostimur.com, Tual – Di tangan para perajin tua, tanah liat masih disulap menjadi Suram, kerajinan gerabah tradisional yang telah diwariskan turun-temurun di Desa Tam, Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual, Maluku. Namun, di tengah perubahan zaman, keterampilan tersebut perlahan kehilangan penerus.
Regenerasi perajin di sentra gerabah Tam nyaris terhenti. Anak-anak muda lebih memilih pekerjaan di sektor pemerintahan yang dianggap menawarkan penghasilan dan masa depan lebih menjanjikan dibandingkan menjadi perajin gerabah.
Kini, hanya tersisa empat perajin yang masih memproduksi Suram secara manual. Usia mereka rata-rata telah mencapai 50 tahun ke atas.
Kondisi itu membuat keberlangsungan kerajinan khas Tam berada di ujung tanduk. Jika tidak ada generasi muda yang bersedia belajar dan meneruskan keterampilan tersebut, bukan tidak mungkin Suram hanya akan tinggal nama dan menjadi bagian dari cerita masa lalu masyarakat Tam.
Dikerjakan Sejak Puluhan Tahun, Kini Nyaris Tanpa Penerus
Salah satu perajin Suram, Siti Johora Elwaan (60), mengaku telah menggeluti pembuatan gerabah sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia mulai membuat Suram sejak 1967.
Puluhan tahun berlalu, keterampilan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tam itu kini semakin sulit diwariskan.









