Porostimur.com, Saumlaki – Di tengah kebutuhan masyarakat untuk membuka lahan perkebunan, Anggota DPRD Provinsi Maluku Andreas JW Taborat mengingatkan warga Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Kormomolin, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), agar tidak membuka lahan secara berlebihan hingga mengancam keberadaan hutan dan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Taborat saat berdialog langsung dengan masyarakat dalam agenda reses di Desa Sangliat Krawain, Kamis (3/9/2026), dan kembali ditegaskannya saat dihubungi dari Ambon, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Taborat, pemanfaatan lahan untuk kebutuhan ekonomi masyarakat tetap penting. Namun, pembangunan dan aktivitas perkebunan harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Sebab, keberadaan hutan tidak hanya menyangkut kelestarian alam, tetapi berkaitan langsung dengan ketersediaan air dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia meminta warga mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum membuka lahan baru.
Jangan Bakar Sembarangan, Sisakan Pohon di Lahan Kebun
Taborat secara khusus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan api saat membersihkan lahan, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.
Ia bahkan meminta warga sebisa mungkin menghindari pembakaran ketika membersihkan lahan.
“Kalau bisa jangan bakar, lebih bagus. Tapi kalau harus bakar, kumpulkan di tengah, jaga api sampai benar-benar mati baru kita pulang,” pesannya.
Selain mengantisipasi kebakaran, Taborat juga meminta masyarakat tidak menebang seluruh pohon yang terdapat di kawasan perkebunan.
Menurutnya, sejumlah pohon perlu tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber air.
“Kalau ada pohon di hutan atau di tempat kita bikin kebun, kalau bisa tinggalkan lima pohon. Jangan tebang semua. Karena yang kecil-kecil ini adalah harapan,” ujarnya.
Bagi Taborat, pohon-pohon kecil yang saat ini dianggap belum memberikan manfaat ekonomi justru merupakan investasi bagi generasi mendatang.
Ia mengibaratkan pohon kecil seperti seorang bayi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum memberikan manfaat.
“Pohon kecil itu seperti bayi. Orang tua sudah pergi, tetapi bayi harus kita pelihara supaya tumbuh,” katanya.
Taborat bahkan menggambarkan besarnya dampak apabila setiap keluarga memiliki komitmen yang sama untuk mempertahankan pohon di lahan perkebunannya.
“Kalau satu keluarga memiliki satu kebun dan ada lima pohon di dalamnya, berarti sekitar seribu pohon yang kita lindungi. Itu sudah sumbangan besar untuk lingkungan dan untuk dunia,” tegasnya.
Menurut dia, keberadaan pohon memiliki peran penting dalam mempertahankan ketersediaan air. Karena itu, masyarakat tidak boleh melihat lahan semata-mata dari sisi kebutuhan ekonomi jangka pendek.
Pembangunan Penting, Tapi Jangan Korbankan Lingkungan
Pesan mengenai kelestarian lingkungan tersebut disampaikan Taborat di tengah berbagai aspirasi masyarakat Sangliat Krawain terkait kebutuhan pembangunan.
Dalam agenda reses, warga menyampaikan sejumlah persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kebutuhan gedung sekolah, persoalan longsor dan banjir, drainase hingga fasilitas peribadatan.
Bagi Taborat, berbagai kebutuhan tersebut merupakan bagian penting dari pembangunan yang harus mendapat perhatian pemerintah.
Namun, pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Ia menilai, persoalan kerusakan lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Masyarakat yang hidup dan memanfaatkan sumber daya alam di wilayah tersebut juga memiliki peran besar dalam menjaganya.
“Kita harus pelihara dunia sebagai rumah bersama. Kalau kita bisa melindungi pohon, itu adalah kewajiban kita,” tandasnya.
Menurut Taborat, menjaga hutan dan lingkungan pada akhirnya berarti menjaga kehidupan masyarakat itu sendiri.
Sebab ketika pohon hilang, persoalan yang muncul bukan hanya kerusakan kawasan hutan, tetapi juga dapat berimbas pada sumber air, risiko banjir dan longsor, serta keberlanjutan kehidupan generasi berikutnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Sangliat Krawain membangun kesadaran bahwa kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Lahan tetap dapat dimanfaatkan, perkebunan tetap dapat dikembangkan, namun harus dilakukan dengan memperhatikan daya dukung alam.
Bagi Taborat, mempertahankan beberapa pohon di setiap kebun mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Namun jika dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat, langkah kecil tersebut dapat berubah menjadi kontribusi besar bagi kelestarian lingkungan dan masa depan generasi di Kepulauan Tanimbar.
(red/merindu)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com



