Api dalam Darah Anak Cucumu

oleh -1 Dilihat

Oleh: Arbangi Kadarusman, Penulis

Saat perang Iran vs AS-Israel sudah berlangsung lebih dari sebulan, media sosial masih dibanjiri dengan kampanye negatif yang menimpakan “kehancuran Suriah karena Iran”. Dari akun-akun yang berafiliasi dengan kaum Wahabi hingga emak-emak FB pro pengais like dan salam interaksi.

Sungguh, saya merasa kagum sekaligus ngeri melihat betapa mudahnya sejarah sebuah bangsa yang ribuan tahun umurnya diringkas hanya dalam satu status yang belum tentu melewati proses editing di kepala. Premisnya gagah benar: “Suriah hancur karena Iran”. Titik. Tak ada koma, tak ada catatan kaki, apalagi riset lapangan. Pokoknya kalau Suriah kena musibah, itu pasti karena tetangganya Syiah Iran yang sesat itu.

Baca Juga  Government Exposition FISIP Unpatti Bahas Politik Digital, Disinformasi dan Masa Depan Demokrasi

Tapi begitulah keadaannya, karena sifatnya yang ingin viral, narasi itu mencoba menyederhanakan konflik lebih dari satu dekade menjadi narasi sektarian yang sempit. Argumen ini mengabaikan total konteks geopolitik: siapa yang memicu perang saudara, siapa yang membanjiri Suriah dengan senjata dan milisi ekstremis, serta apa tujuan strategis kehadiran Iran selama lebih dari satu dekade.

Ketika perang saudara Suriah pecah pada 2011, gelombang ekstremisme—termasuk ISIS dan Front al-Nusra (afiliasi al-Qaeda) hampir membelah Suriah menjadi beberapa faksi yang saling membantai. Direktur Institute for Historical Review Mark Weber secara gamblang menyatakan: jika bukan karena bantuan Rusia dan Iran, pemerintah Suriah “tidak akan dapat bertahan”. Iran menginvestasikan US$30–50 miliar, mengerahkan puluhan ribu pejuang, dan mengirim ratusan penasihat militer untuk mencegah jatuhnya Damaskus ke tangan kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan terorisme global .

No More Posts Available.

No more pages to load.